• Start Your Day With Personal Story

    Triplet ~ Part 11




    Triplet adalah tulisan lawas saya yang tidak diterbitkan dalam bentuk buku karena ceritanya lumayan absurd. Saya memutuskan untuk menerbitkannya di blog, part demi part. Karena keabsurdannya, komentar kalian tidak akan saya tanggapi kecuali buat lucu-lucuan. Ini bukan pembelaan diri, ini bela diri dengan jurus menghindar. Selamat membaca Triplet.

    ***

    PART 11




    ~ Ende ~
    13 Maret 2015

    “Anak-anak adalah tangan yang dengannya kita memegang surga.” – Henry Ward Beecher.

    Maret. Pancaroba. Perang kekuatan antara cuaca panas melawan cuaca dingin nampaknya akan berakhir pada kemenangan cuaca dingin. Kota Ende memang tidak sepanas Kota Aimere, salah satu kota kecamatan di Kabupaten Ngada yang terpeta di tepi pantai, namun Kota Ende juga tidak sedingin ibu kota Kabupaten Ngada: Kota Bajawa.
    Maret. Bagi keluarga Pua Saleh, ada tiga tanggal yang penting di bulan ini. Pertama, 1 Maret. Kedua, 11 Maret. Ketiga, 13 Maret.
    Pukul 06.30 Wita. Sepagi ini, usai Sholat Subuh, Ibrahim Pua Saleh yang oleh anak-anaknya dipanggil Baba, sudah ngetem di meja makan. Mulutnya bergerak-gerak, sibuk mengunyah fizu—kue cucur sembari membaca buku setebal ensiklopedia berjudul: Kisah Para Nabi Dalam Islam.
    Ine yang bernama asli Regina Bata lantas berubah menjadi Siti Maesaroh—nama pemberian Ayahnya Him, datang dari arah dapur membawa secangkir kopi. “Abang sudah siapkan kado untuk mereka bertiga?” tanya Mae. Dia duduk di hadapan Him berharap mendengar jawaban.
    Seakan tidak mendengar pertanyaan istrinya, Him membalik halaman buku, masih serius membaca. Dan mengunyah.
    “Abang ...”
    Him mendesah. “Untuk apa?”
    “Tadi malam kita sudah bahas ini, Bang. Jangan berubah pikiran begitu.” Mae cemberut. “Ini pertama kalinya mereka bertiga ada di rumah setelah tujuhbelas tahun. Rayakanlah sedikit.”
    Him membuka kopiahnya, menggaruk kepala—jelas tidak gatal, klise, lantas mengenakannya kembali. “Nanti saya pikirkan.”
    Mae cemberut. Dia meninggalkan suaminya yang masih asyik membaca buku. Padahal sebenarnya pikiran Him sedang tertuju pada puteri-puterinya.
    Tiga puteri kembar lahir pada hari ke-13, bulan 3, tahun 1979. Him pernah memikirkan adanya kemungkinan bulan ketigabelas dalam tahun Kabisat sehingga bisa saja tanggal kelahiran mereka bertengger cantik pada akta kelahiran dan KTP: 13-13-1979.
    Memori Him masih bekerja dengan sempurna. Pernikahannya dengan Mae pada 10 Januari 1978 yang terjadi sebelum ulangtahunnya yang ke-19 menerima pertentangan dari keluarga Mae. Arnoldus Bata, bapak mertua Him, menentang keras pernikahan mereka. Him tidak dapat menyalahkannya. Harga diri Arnoldus yang sehari-hari bekerja pada Bengkel Misi tentu terkoyak. Puteri yang paling disayanginya karena sejak kecil mengidap asma, yang menjadi guru pada usia 16 tahun, berpindah keyakinan dan menikah. Namun itu masa lalu.
    Mulut Him masih sibuk mengunyah fizu. Dia ingat pada hari ketika dia memikirkan nama untuk puteri-puterinya juga hari kelahiran mereka, mulutnya juga sedang sibuk mengunyah fizu. Betapa dia sangat kuatir akan kelahiran si kembar dan juga sangat kuatir akan nama yang hendak disematkan pada si kembar.

    ..xXx..

    ~ 1979 ~

    13 Maret. Waktu tidak bisa menunggu. Tidak dalam satu dua hari terakhir. Dua bulan lalu Him menolak mentah-mentah tiga nama pemberian Ayahnya: Siti Nurbaya Pua Saleh, Siti Habibah Pua Saleh, dan Siti Mayasaroh Pua Saleh. Perkara nama ini telah membuat Ayahnya, Yusuf Pua Saleh, yang sedang berada di Pulau Ende itu geram, lantas ngambek, menolak menyeberang ke Kota Ende sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Permasalahannya adalah Him merasa perlu berkomentar, “itu nama jelek semua, Ayah eee. Kasih nama yang moderen sedikit ka! Macam nama Monalisa ...” Him tidak berani menyampaikan pendapat lainnya perihal nama berawalan ‘Siti’. Dia kuatir istrinya tersinggung. Nama Siti Maesaroh pun diberikan oleh Ayahnya yang tukang ngambek itu kepada istrinya.
    Kemarin Him bertemu Abah Pidu (nama KTP-nya Mohamad Pua Ita), guru mengaji masa kecilnya yang telah lama migrasi dari Pulau Ende ke Kota Ende untuk mengurus Pondok Pesantren Sembilan Wali yang dikelola oleh Yayasan Ar Rahman. Meminta saran dari Abah Pidu, Him dibekali tiga nama. Nama pertama: Shamira. “Shamira itu artinya pekerja keras, Him! Kalau bekerja dia tidak mau setengah-setengah. Dia akan selalu berusaha mencapai hasil terbaik.” Him bertekat memberi nama Shamira untuk bayi pertama yang keluar dari rahim Mae nanti—beberapa hari lagi. Kembar pertama, si pekerja keras, akan menjadi tauladan untuk kedua adiknya yang, mungkin lahir hanya berjarak beberapa detik atau menit saja.
    “Dua nama lagi,” gumam Him, masih sambil mengunyah fizu. Serampangan tangannya meraih taplak meja makan untuk menghilangkan minyak fizu yang lengket di jemari. Dia sadar perbuatannya ini dapat memicu ledakan amarah Mae karena taplak meja makan yang di-kristik ini merupakan hadiah pernikahan dari Sisilia Dhae, Mamanya Mae yang berasal dari Desa Nuabosi. Tetapi satu-satunya perkara yang menyedot perhatiannya sekarang adalah nama, bukan amarah Mae, bukan perang dinginnya dengan Ayah, bukan pula setoran dari penyewaan perahu-perahu motornya.
    Dua nama lain pemberian Abah Pidu adalah Talita Hasna Humaira, dan Zara Nadia Akhyar. Nama yang elok, sedap didengar. Namun Him terkejut ketika mendengar arti dari nama tersebut. Dia butuh berpikir seribu kali. Talita Hasna Humaira berarti gadis yang cantik yang pipinya kemerah-merahan. Bagaimana jika kembar kedua nanti pipinya tidak kemerah-merahan seperti buah tomat? Lagi pula Zara Nadia Akhyar yang berarti fajar menyingsing mengawali segala kebaikan ... terlalu berat untuk disandang di dalam keluarganya. Analisa mengantarnya pada bimbang.
    Him menegak kopi yang tinggal seperempat. Shamira. Dia menginginkan nama anak-anaknya kelak merdu diucap dan berirama seperti menyebut fizu, kaju, imu (kue cucur, kayu, teman).
    “Shamira, Shangkala, Shailangkung ...” Him menggeleng kepala. Menolak ide Shangkala dan Shailangkung. Jailangkung jadinya! Repot kalau nanti teman-temannya panggil dia jailangkung.
    “Shamira, Shalila, Shalala ...” Him kembali menggeleng. “Shamira, Sharata, Shad ... Shadap? Shamira, Sharata, Shadiba ...”
    Lama Him terdiam. Shamira. Sharata. Shadiba. Sharata ... sama rata. Ah. Sudah pas itu Shamira dan Shadiba. Dia mengangguk. Sharastha.
    Mae bergabung dengan suaminya di meja makan sambil mengelus perut. “Abang, tadi makan fizu berapa buah?”
    “Lima.”
    “Dikunyah?”
    Him bungkam. Suasana hati istrinya sedang tidak bagus. Mana pula sedang merasa tidak enak pada bagian perut. Dia perhatikan saja tingkah istrinya yang meringis tanpa suara.
    “Sabar, Nak ... sabar,” ujar Mae lembut. Dia mengelus-elus perutnya. Usia kehamilannya memasuki bulan ke-sembilan. Tapi dia sendiri juga belum yakin kapan tepatnya akan melahirkan.
    “Harusnya kau bilang, sabar anak-anak ... mereka kan ada tiga,” protes Him. “Menurut hasil Ultranografi ...”
    “Ultrasonografi, Bang,” ralat Mae.
    “Ya, itu USG ... kau hamil kembar tiga ...”
    Mae melirik malas. Sejak mendengar istilah ultrasonografi, Him ibarat kertas putih ketumpahan tinta. Merasa paling pintar. Sedikit-sedikit ultranografi—menyebut istilah itu saja salah. Sedikit-sedikit, “kata dokter Consitah yang Orang Philipina itu, si got ...” payah. Tapi apa mau dikata? Seperti itu lah suaminya.
    Him menghabiskan kopinya. “Mae, kita ini sangat beruntung,” ujarnya.
    “Karena?” tanya Mae.
    “Karena dikaruniai tiga sekaligus ...”
    Him dan Mae memang sangat beruntung. Untung yang pertama adalah berdirinya Rumah Sakit Bersalin yang dikelola oleh Suster Misi Abdi Roh Kudus di Jalan Masjid, berhadapan dengan RSUD Ende. Itu adalah salah satu tarekat atau kongregasi religius, atau ordo keagamaan Katolik yang mempunyai nama resmi “Servae Spiritus Sanctus” (S.Sp.S.), yang berarti : “Misi Abdi Roh Kudus”. Kongregasi ini didirikan oleh Santo Arnoldus Janssen, pada tanggal 8 Desember 1889 bersama Beata Maria Helena Stollenwerk, dan Beata Josefa Hendrina Stenmanns, di Steyl, di Belanda, yang berada di wilayah perbatasan dengan Jerman. Anggota yang tergabung di dalam kongregasi ini menghayati hidup misioner sebagai biarawati atau lebih dikenal dengan sebutan suster. Rumah Sakit Bersalin yang menangani kehamilan Mae adalah Rumah Sakit Bersalin SSPS (dari S.Sp.S.) yang dikelola oleh para suster dari ordo tersebut. Mengabdikan hidup mereka demi kesehatan ibu dan bayi. Orang Ende menyebut rumah sakit tersebut dengan Rumah Sakit SSPS, atau hanya SSPS.
    Untung yang kedua, Profesor Ian Donald telah merintis teknologi Ultrasonografi (USG) pada tahun 1960. Dari hasil USG yang menyengsarakan Mae karena wajib meminum air dalam takaran yang telah dianjurkan dokter Consitah (juga dipanggil Suster Consitah, Suster Kepala Rumah Sakit Bersalin S.Sp.S.) itu menghasilkan penerawangan serius. Mae mengandung tiga janin. Ya, triplet—kembar tiga. Him tak paham omongan dokter Consitah setelah hasil USG disampaikan, “zygote-nya membelah jadi tiga bagian yang terpisah selama tahap-tahap permulaan pembelahan sel. Kembar tiga tidak mudah, Pak Him, Ibu Mae. Kembar tiga ini resiko kematiannya sangat tinggi.” Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Him hanya tahu bahwa tak lama lagi dia akan menjadi Ayah dari tiga bayi kembar perempuan. Perempuan!
    Mae kembali merasakan sakit, “Bang …”
    “Kita pergi ke S.Sp.S. sekarang?” Him bangkit, kuatir Mae melahirkan di rumah, dan itu sangat tidak keren. Dia sudah propaganda ke anak buahnya soal Rumah Sakit Bersalin S.Sp.S. yang berkualitas prima. Kualitas nomor wahid. “Aduuuh, itu kantor PMI buka tidak eee?” tanya Him sedikit panik. Seminggu sebelumnya dia telah menyiapkan sepuluh kantung darah hidup demi persalinan Mae. Anak buahnya ditodong untuk mendonor darah. Nanti. Saat Mae melahirkan dan jika dibutuhkan.
    Mae menghela nafas panjang-panjang. “Sepertinya belum, Bang. Abang pergi saja ke pantai …” katanya sambil pelan-pelan menghempaskan pantat ke kursi, mengelus-elus perutnya yang membuncit maksimal.
    Him ragu. “Mae, kita ke …”
    Senyum Mae mengalahkan segalanya. “Abang kuatir, ya? Apa kata dokter Consitah, Bang?” pancing Mae. Pada saat-saat tertentu mereka sadar jarak kematian begitu dekat dengan kehidupan.
    “Resiko kematiannya sangat tinggi,” jawab Him persis ketika anak TK ketika ditanya oleh guru tentang gambar matahari.
    “Tapi kita sudah sepakat kan, Bang?”
    Him mengangguk. Mereka memang telah sepakat sejak hasil USG disampaikan oleh dokter Consitah. Apa pun yang terjadi kelak adalah kehendak Tuhan. Kematian adalah misteri, rahasia yang tidak dapat diprediksi kecuali manusia memang sengaja meloncat dari gedung bertingkat seratus tanpa pertolongan Spiderman.
    Abang pergi saja ke pantai. Suruh si Said atau Kemal datang ke sini ... kalau ada apa-apa biar mereka yang kabarkan pada Abang.”
    Him mengangguk lagi. “Kalau begitu saya berangkat, Mae,” pamit Him sambil pergi mengambil kunci sepeda motor.
    “Jangan lupa janji Abang,” ingat Mae. “Besok lusa kalau saya melahirkan ... latihlah memang lengan Abang ...” goda Mae.
    “Tidak mungkin lupa,” jawab Him. Dia pergi ke halaman depan, lantas memacu sepeda motor menuju pesisir selatan.
    Pantai Ende bagian Pu’urere, tempat duabelas armada kapal motor milik Him berlabuh, merupakan bagian dari pesisir Pantai Ende yang memanjang dari Tanjung ke Ndao. Di depan pantai berpasir hitam, tipikal pantai laut selatan, tampak Pulau Ende. Hari ini semua kapal motor milik Him hilang dari pandangan, disewa oleh kelompok-kelompok nelayan yang belum kembali dari melaut. Musim selalu bagus di mata Him. Belum pernah dia tersenyum selebar hari ini. Si Juragan Duabelas menepuk-nepuk pundak Rulah, asistennya, sambil berkata, “Allah kasih kita rejeki berlimpah, Rul!”
    Alhamdulillah, Juragan ... semuanya disewa sama mereka (nelayan), jawab Rullah.
    “Said! Kemal!” panggil Him.
    “Iya, Paman!” sahut Said.
    “Iya, Juragan!” sahut Kemal.
    “Kalian berdua pergi ke rumah, pakai motor saya,” titah Him, melempar kunci motor. “Kalau ada apa-apa dengan istri saya, segera datang kabarkan ke sini!” ujarnya.
    “Beres!”
    Lima menit kemudian Said dan Kemal masih saling berebut kunci motor.
    “Sudah! Sekarang Said yang boncengi kau, Mal. Kalau ada apa-apa dengan istri saya, gantian kau yang boncengi Said ke sini!” hardik Him murka.
    Rulah terbahak. “Mereka berdua itu kalau lihat sepeda motor macam lihat perempuan paling bahenol saja,” katanya.
    “Menyesal dulu saya ajarkan mereka kendarai sepeda motor. Lebih baik mereka kendarai saja motor tempel buat perahu itu,” omel Him.
    Tawa Rulah semakin menjadi.
    “Ada-ada saja mereka itu ...” Him duduk di kursi yang diletakkan di bawah pohon.
    “Juragan ... tadi malam Eja (ipar laki-laki dalam bahasa Ende) Dul datang ke rumah saya.”
    “Mau apa Eja kau itu?” tanya Him skeptik.
    “Dia tawarkan perahu motor Pak Samsul,” jawab Rulah seraya duduk di depan Him.
    Cih. Perahu motor warisan keluarga Samsul yang digadai itu? Berani sekali si Dul menjualnya!” protes Him.
    “Pak Samsul tidak sanggup bayar tebusan, Juragan.”
    Him mengangguk-angguk lantas berkata, “kalau saya beli perahu motor itu, nanti julukan saya bukan Juragan Duabelas, Rul ... tapi Juragan Tigabelas,” guraunya dibalas dengan Rulah dengan tawa.
    “Jadi ... bagaimana, Juragan?”
    “Begini saja, Rul. Kalau istri saya melahirkan saya punya satu janji. Nah ... kalau janji itu berhasil saya tepati, saya akan beli perahu motor itu.”
    “Baik, Juragan.”
    Him dan Rulah mulai mendiskusikan bisnis. Sebagai orang kepercayaan Him, Rulah mengurusi semua tetek-bengek yang berkaitan dengan usaha Him ini, mulai dari mesin tempel yang rewel, beberapa nelayan yang terlambat membayar, mengecat ulang perahu, melayani pinjaman uang oleh para nelayan, termasuk menyetor penghasilan hari kemarin. Penghasilan tersebut akan diserahkan Him pada Mae untuk dibukukan dan disimpan di bank.
    “Heh, Rul, sampan kecil punya kau itu masih bagus kondisinya?”
    “Mau dibeli juga sampan itu?”
    “Jangan senang, kau. Saya mau pinjam.”
    “Untuk apa?”
    “Saya sudah janji sama istri saya. Besok lusa kalau dia melahirkan, saya bakal dayung sampan dari Ndao ke Tanjung,” jawab Him sambil menepuk lengannya. Sudah lama dia tidak mendayung sampan.
    Rulah menepuk kening. “Serius itu, Juragan?”
    “Iya!” balas Him separuh membentak. Dapat dia bayangkan lengannya yang telah lama tidak mendayung akan kejang-kejang.
    Lantas dari kejauhan dua manusia berlari-lari kesetanan. Mereka memanggil-manggil Him dengan suara keras.
    “Juragan! Juragan!”
    “Paman!”
    “Juragan!”
    Said dan Kemal terengah-engah tiba di hadapan Him.
    “Juragan!”
    “Paman!”
    “Terserah kalian panggil saya apa. Ada apa!?” bentak Him. Orang-orang memanggilnya dengan berbagai julukan: paman, juragan, ka’e—kakak.
    “Bibi mau melahirkan!” jawab mereka kompak. Mata mereka berbinar-binar.
    Him tertawa. “Kalian ini mau main gila dengan saya!? Belum saatnya! Tadi pagi si Mae itu ...”
    Kemal menangis tersedu-sedu. “Betul, juragan. Bibi mau melahirkan ... kenapa Juragan tidak percaya? Saya ngebut! Hampir tabrak sepedanya Paman Hasbul dan hampir masuk got di depan Kantor Pelni ...”
    Him terperanjat. Dia merampas kunci motor dari tangan Kemal, berlari bak kambing dikejar harimau, berusaha secepat mungkin tiba di rumah.
    “Juragan ...” celetuk Kemal. “Bibi sudah kami bawa ke Rumah Sakit Misi (S.Sp.S.).” namun Him sudah terlalu jauh untuk mendengarnya.
    13 Maret 1979, telah lahir tiga bayi perempuan dari rahim Mae. Kelahiran mereka ditangani serius oleh dokter Consitah. Dengan susah payah, hati-hati, dan penuh kesabaran, empat suster senior membantu dokter Consitah mengeluarkan tiga bayi perempuan itu dari rahim Siti Maesaroh melalui persalinan normal. Bayi kedua menyusuli bayi pertama hanya dalam waktu lima menit. Bayi ketiga, bayi yang menimbulkan depresi pada wajah empat suster senior, membutuhkan waktu lebih dari limabelas menit untuk menyusul kedua sahabatnya menuju dunia baru.
    Saya pikir dia tidak selamat, komentar salah seorang suster senior dari balik masker.
    Dokter Consitah tersenyum lega. “Dia selamat. Dia hanya mau mempermainkan kita,” katanya dengan nada mengolok. “Kabarkan pada Pak Ibrahim, istri dan tiga bayi perempuannya selamat.”
    Salah seorang suster membuka pintu, memanggil seorang suster magang yang sejak tadi menunggu di depan pintu. “Panggil Pak Ibrahim,” perintahnya.
    Maria, perempuan muda berwajah lugu yang baru menekuni profesi ini selama enam bulan berlari cepat ke pintu depan. Tak lama dia kembali, langsung memasuki ruang bersalin. Dia menggaruk pipinya, kikuk. Berdiri di dekat dokter Consitah, Maria terlihat seperti hobbit di hadapan Gandalf.
    “Mana Pak Ibrahim?” tanya dokter Consitah, menatap Maria lekat-lekat.
    Maria masih menggaruk pipinya. Apa yang harus dia sampaikan pada dokter?
    “Maria!” bentak dokter Consitah. “Kau ini ... kalau ditanya ... jawab!”
    “Aduh Mama Suster, Mama dokter ... Maaf, Pak Ibrahim tidak ada di depan. Kata bapak-bapak yang di depan, Pak Ibrahim sedang mendayung ... mendayung sampan dari Ndao menuju Tanjung?” lapor Maria. Dia sendiri juga bingung atas informasi yang diberikannya kepada dokter Consitah.
    “Apa? Istri melahirkan, dia dayung sampan? Untuk apa dia dayung sampan?” dokter Consitah melotot maksimal.
    Dari arah tempat tidur terdengar suara lemah Mae. “Iya dokter. Saya yang … minta.”
    Dokter Consitah syok. Empat bidan senior syok. Maria hanya bisa tersenyum kikuk.
    “Ibu Mae, maaf, kalau boleh saya bilang Ibu dan suami Ibu keterlaluan!” hardik dokter Consitah sambil melenggang meninggalkan ruang bersalin. Dongkol setangah mati.

    ..xXx..

    Setelah liburan kedua sekalian mengantar dua teman melancongnya ke Kota Maumere, hari ini Diba kembali pada rutinitas. Sambil memacu motor matic yang dia namai Nimbus2007, diadopsi dari nama sapu terbang dalam serial Harry Potter, dia mengingat kejadian di ruang makan tadi pagi. Seperti biasa Baba sedang mengunyah fizu sambil membaca sedangkan Ine sedang mencatat daftar belanja. Adalah keajaiban jika Diba yang lebih dahulu mendarat di ruang makan. Biasanya Atha atau Ucup. Bahkan Diba belum menggosok gigi. Dia tidak peduli. Di ruang makan ditemuinya Baba dan Ine, mencium tangan, pipi, dan lutut kedua orangtuanya dan berkata, “terima kasih Baba, Ine ... saya sudah tigapuluh enam. Siang ini Baba dan Ine makan siang di kafe, ya. Nanti saya suruh Ucup jemput.”
    Serampangan Diba memarkir Nimbus2007 di depan pintu Shadiba’s Corner. Ibarat kebiasaan rata-rata umat manusia setiap pagi setelah bangun tidur: boker, dia berdiri di depan tempatnya mengumpulkan Rupiah ini. Dia menatap kanopi biru-putih yang khusus dipesannya pada Benny Laka, pemilik Benny Laka Art & Design. Huruf jenis Airmole warna biru donker berukuran raksasa membentuk dua kata: Shadiba’s Corner. Pada bagian bawahnya, berukuran lima kali lebih kecil huruf berjenis Forgotten Futuris membentuk kalimat: One Place for Many Pleasure. Memang inilah tujuan dia mendirikan Shadiba’s Corner. Satu tempat untuk banyak kesenangan.
    Pemandangan paling mencolok dari Shadiba’s Corner, selain nuansa biru langit pada hampir seluruh kulit luarnya, adalah pintu ganda berbahan kaca pada bagian barat, dan satu jendela kaca memanjang empat meter pada bagian timur. Inilah tempat empat kepuasan dapat diraih sekaligus oleh pengunjung: galeri tenun ikat, kafe, pojok buku, dan persahabatan—tentu saja. Konsep yang sudah lama bercokol dalam benak Diba ini baru dapat direalisasikan pada tahun 2006, saat tabungan dan bantuan dana dari Baba melakukan perkawinan. Kenyataan bahwa dia tidak melanjutkan tugas mengurus tigabelas perahu motor sewaan milik Baba, si Juragan Tigabelas, sedikit pun tidak melunturkan dukungan untuknya. Bahkan Ine sering mengunjungi Shadiba’s Corner untuk sekadar membetulkan letak selendang pajangan, atau mengomeli Azul yang sering ketiduran di beranda belakang. Demikianlah cinta orangtua … abadi.
    ~Pletok~
    Suara yang tidak keren itu terdengar. Diba memasuki Shadiba’s Corner dengan perasaan yang sama: kagum, bangga, dan penuh syukur. Jika dari luar tempat ini seperti sebuah dadu yang kecemplung dalam ember cat berwarna biru langit, maka bagian dalamnya jauh lebih berwarna.
    Ruang utama adalah galeri tenun ikat, bernuansa cokelat dan berkesan natural, dimana lemari-lemari pajangan, dan rak-rak kayu dengan ukiran-ukiran etnis berpintu kaca dijejer menempeli tiga sisi dinding. Sedangkan dua manekin, laki-laki dan perempuan berpakaian adat Ende, diletakkan pada bagian tengah, terkepung oleh lima meja pajangan yang membentuk heksagonal yang memuat barang dagangan sesuai jenisnya. Meja pertama memuat bermacam asesoris etnis perempuan seperti kalung, giwang, dan cincin, berbahan gading dan kayu ukiran. Aneka kerajinan tangan, anyaman daun lontar, berbentuk tas, dompet, dan topi terletak di meja kedua. Meja ketiga berdiri patung-patung kecil. Pada meja keempat tertata aneka tenun ikat modifikasi seperti dompet, tas, sandal, sepatu, juga kipas. Meja kelima, agak aneh, memuat pernak-pernik seumpama PBB sedang bersidang: boneka-boneka imut berbahan flanel yang dijadikan gantungan kunci dan gantungan telepon genggam, aneka gelang anyaman tali, tempat pinsil berbahan tenun ikat dan anyaman daun lontar, tas rajutan aneka warna yang dipadukan dengan perca tenun ikat, juga lampu meja daur ulang. Meja kelima ini merupakan bukti kreatifitas kaum muda Kota Ende yang bersatu dalam J.Art Community yang beranggotakan Violin Kerong, El Micha Thomas Ire, Solavita Mbipi, Del, dan teman-temannya.
    Bagian tengah-dalam Shadiba’s Corner terdapat rak-rak buku, enam bench warna-warni, lima sofa raksasa yang empuk, dan tiga meja kayu berkaki pendek. Pojok buku ini seumpama pembatas kasat mata antara galeri dan kafe. Buku-buku yang memenuhi rak bukan sembarang buku. Tidak ada satu pun buku bertema teenlit di sana. Maklum, sebagian besar buku-buku tersebut merupakan koleksi pribadi Diba yang bukan pecinta teenlit. Selain novel terjemahan, rak buku juga menyediakan buku pariwisata yang diperoleh Diba dari kakak sepupunya, Selvi Bata, yang bekerja pada Dinas Pariwisata Kabupaten Ende.
    Kafe merupakan kesenangan terakhir yang dibangun Diba untuk menggenapi Shadia’s Corner karena dia  punya kebiasaan mencoba resep baru, dan resep aneh untuk lidah Orang Ende. Jendela kaca besar yang terlihat dari depan bangunan merupakan kesengajaan yang manis dari sebuah rencana. Dari jendela kaca besar itu lah para pengunjung kafe dapat menikmati, misalnya, secangkir kopi dan seporsi roti bakar, atau jus mangga dan cupcakes, atau cappuccino dan kentang goreng, dengan pemandangan lalu lalang pejalan kaki di trotoar, dan lalu lintas Jalan Kelimutu yang cukup padat. Pengunjung bahkan boleh berpindah lokasi ke pojok buku, santai membaca buku sembari ngopi.
    Shadiba’s Corner, sejak berdiri hingga saat ini, telah mempekerjakan lebih dari selusin tenaga kerja. Dua kasir masing-masing kasir galeri dan kasir kafe, dua koki, dua pelayan kafe, satu tenaga administrasi dan keuangan, lima pelayan galeri, dua cleaning service sekaligus pengepak paket yang Diba juluki packer boy, dan seorang supir. Tentu yang paling sulit adalah mencari koki untuk kafe. Untungnya Diba dibantu Bibi Ani, adik sepupu Baba yang pindah domisili dari Pulau Ende ke Kota Ende, sebelum menemukan koki. Kesulitan lain adalah memberikan pencerahan kepada para pelayan galeri tentang tenun ikat: proses pembuatan, jenis, asal, dan alasan mengapa harganya berbeda antara satu dengan yang lain.
    Yang tidak Diba sadari adalah sejak dia memarkir Nimbus2007 di depan pintu, Azul sudah mulai mengomel. “Nanti saya juga yang pindahkan itu motor ke parkiran. Apa susahnya sih Kak Diba pakir motor di parkiran?” keluh Azul. Wajahnya yang muram terlihat lebih suram dalam pakaian serba gotik, serba hitam. Kali ini dia mulai terjangkit virus gotik.
    “Jangan kau rusak hari ini dengan omelan kau itu, Zul,” ingat Bibi Ani. “Kita sudah lama menyiapkan ini ... untuk pertama kalinya.”
    Azul menghela nafas panjang.
    Feme, Laila, dan Imar, muncul dari arah kafe menuju Pojok Buku yang tidak tertangkap pandangan Diba dari tempatnya berdiri. Tangan Feme memegang piring berukuran besar yang diatasnya berdiri tart berlapis cokelat. Tinggi tart menyembunyikan wajah Feme yang sendu. Lilin angka 36 berdiri di puncak tart, angkuh. Kebiasaan Diba berlama-lama menatap tulisan Shadiba’s Corner di bawah kanopi memberikan mereka waktu untuk mengatur posisi.
    “Psstt … siap-siap,” Laila mengangkat tangan. “Tiga … dua … satu …”
    Puas melihat pajangan tenun ikat, Diba meneruskan langkahnya menuju bagian bagian dalam. Ketika tiba di Pojok Buku, dia diserang oleh teriakan, “selamat ulang tahun Kakak Shadiba Pua Saleh!”
    Diba bengong. Ekspresi wajahnya campur-aduk antara senang, kaget, ingin tertawa, ingin menangis, ingin bercinta.
    “Ayo, Kak … kita ke kafe,ajak Laila.
    Azul menyalakan lilin, lantas menyeret Diba mendekati meja tempat Feme meletakkan cake ulang tahun. “Dengan segala kerendahan hati, untuk pertama kalinya kami melakukan ini untuk Kak Diba,” kata Azul.
    “Kampret!” umpat Diba. Dalam hati dia terharu. Matanya berkaca-kaca tapi dia tidak ingin menangis—tidak pada hari bahagianya.
    “Ayo … ayo … ditiup lilinnya,” ujar Bibi Ani, memilih untuk tidak mengingatkan Diba pada umpatannya.
    “Tunggu dulu, tunggu dulu.” Diba mengangkat tangan. “Ehem!” dia berdehem, sengaja menambah kesan dramatis pagi ini. “Terima kasih. Hari ini adalah hari ulang tahun saya. Tapi ... apakah ada yang lupa?” Diba melirik Bibi Ani. “Hari ini juga hari ulang tahun Shadiba’s Corner yang sebelumnya bernama Rumah Tenun Ende.”
    “Astaga!” pekik Bibi Ani, menepuk kening.
    Diba terkekeh. “Shadiba’s Corner tidak akan berusia sembilan tahun tanpa kalian semua—tanpa Bibi Ani tersayang—yang sudah temani saya sejak mula mendirikan Rumah Tenun Ende. Bukan saya yang membawa Shadiba’s Corner hingga secantik sekarang tapi kalian. Bibi Ani yang mau saya ajak susah, Azul, Feme, Laila, Imar, Magda, Among, dua kasir cantik kita Jeni dan Jessica—kebetulan namanya mirip ... Petrus yang pada akhirnya bergabung sebagai sopir kita ... juga dua anak magang Cahyadi dan Renti,” ujarnya, lantas menghela nafas panjang. “Jadi ... lilin ini tidak boleh ditiup oleh saya seorang. Kita semua harus meniupnya!”
    “Merdeka!” seru Azul.
    “Monyong!” umpat Diba. “Ayo!” ajaknya kemudian.
    “Tunggu!” suara Petrus, sopir, dari arah Pojok Buku. Dia terlambat. “Saya juga!”
    “Cepat! Satu … dua … tiga …”
    “Puuuffff …”
    “Shuuufff …”
    “Kampreeeettt! Ini siapa yang belum gosok gigi?” raung Diba tidak rela hidungnya kerasukan aroma naga gembel. Keterlaluan. Azul menunjuk Petrus, Laila menunjuk Azul, Bibi Ani dan Imar menunjuk Azul, Petrus menunjuk Azul. Cahyadi dan Renti kompak menunjuk Azul. Azul, si tersangka utama meringis sambil garuk-garuk kepala.
    Ulangtahun ke-36 Diba dan ke-9 Shadiba’s Corner. Apa yang terjadi hari ini tidak bisa Diba pisahkan dari masa kuliah dulu, masa dia mengenal internet untuk pertama kali di Warnet Afilla di Jogja bersama Atha. Jasa Mono dikenang sepanjang masa oleh dua dari triplet Pua Saleh. Mono, mahasiswa bertubuh tipis, rela menghabiskan waktu berjam-jam di warnet demi kemajuan intelejensia dua mahasiswi asal Ende, Flores. Satu hari saja Mono bertindak sebagai guru besar, hari selanjutnya kedua Pua Saleh telah fasih menggunakan internet.
    Awal mula mengenal internet Diba paling doyan nongkrong di mIRC. Semua server dia jelajahi: Dalnet, Undernet, Wasantara. Ketika Yahoo! meluncurkan Yahoo!Messenger, teman-teman chatting Diba di mIRC pun hijrah berjamaah ke layanan chatting yang menyediakan fasilitas video call tersebut. Mau tak mau dia pun ikut mingat dari mIRC. Ketika Geocities mewabah di Indonesia, dia tak mau ketinggalan membuat akun Geocities. Tetapi hal itu tak berlangsung lama karena kemudian ada mainan baru yang lebih yahud: blog. Vita, sahabat Diba yang berdomisili di Banyuwangi, rela mengajarinya blog via chatting di Yahoo!Messenger. Oktober 2001 resmilah Diba menuang pemikiran-pemikirannya yang un-jenius di blog. Setelah mengenal blog dia punya prinsip baru: menulis untuk diri saya sendiri, bukan orang lain. Itu merupakan bahasa yang lebih halus dari: kalau tulisan saya jelek, jangan diledek!
    Tahun 2002, setahun setelah diwisuda menjadi Sarjana Hukum pada salah satu universitas di Jogja, Diba pulang ke Ende membawa bekal: Ilmu Hukum dan ilmu internet. Bila dipetakan maka Hukum Positif berada di samping Google, rumah Immanuel Kant berdiri di samping kanan rumah Jack Dorsey si penemu Twitter, Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman menetap satu blok dengan gerakan Jangan Asal Copy Paste. Diba menolak mengikuti tes CPNS dan meminta Baba memasang jaringan internet di rumah yang pada masa itu menggunakan model seukuran piring. Upayanya ini didukung penuh oleh Atha dan Ucup karena mereka semua memang tergila-gila pada internet. Internet, teknologi keren ini, mengobati rasa rindu Diba akan Jogja, juga kota-kota yang pernah dia kunjungi saat liburan semester tiba. Dia betah berlama-lama ngetem di kamar, berjam-jam chatting dengan Mono melalui Yahoo!Messenger, atau membalas e-mail dan bertukar cerita dengan teman-teman masa kuliah. Dan biaya internet pada masa itu, dial-up, mahalnya mencakar langit.
    ... lantas sekonyong-konyong ide itu datang
    Adalah Bibi Meda, adik kadung Baba, yang menginspirasi Diba menjual tenun ikat khas Ende secara online. Tahun 2004 Diba resmi meluncurkan website (lagi-lagi dia berhutang budi pada Mono yang rela meluangkan waktu mendesain layout website tersebut) Rumah Tenun Ende setelah sebelumnya berpromosi lewat blog, Twitter, dan Facebook. Penjualan tenun ikat melonjak drastis. Bibi Meda yang menetap di Pulau Ende lebih rajin bolak-balik Kota Ende-Pulau Ende untuk mengantar tenun ikat pesanan Diba. Usaha yang menurut sebagian orang mustahil ini berhasil Diba wujudkan. Siapa bilang internet hanya menghabiskan uang? Karena penjualan tenun ikat yang melonjak drastis, Bibi Meda lebih sering bolak-balik Pulau Ende-Kota Ende untuk mengantar tenun ikat pesanan Diba yang dibeli dari penenun di Pulau Ende.
    Diba tahu Baba mengharapkan salah satu dari mereka mau mengurusi usaha penyewaan perahu motor namun sayang dirinya terlalu sibuk memburu tenun ikat, Atha lebih sering ‘memenuhi panggilan’, sedangkan Ucup disibukkan dengan tugas-tugas kuliah (waktu itu, sebelum mengikuti tes CPNSD dan lulus menjadi PNS). Dia juga tahu Baba bukan tipe orangtua yang suka memaksakan kehendak pada anak-anak. Ketika dia memilih untuk bergelut dengan internet dari jam ke jam, Baba hanya berpesan, “kalau mau kerja apa-apa itu harus serius, Diba. Jangan setengah-setengah.”
    Diba tahu dirinya merupakan kloning Baba dalam takaran seduhan kopi yang tepat: dua sendok gula + satu sendok bubuk kopi. Sama-sama berkemauan keras. Masih diingatnya sejarah kehidupan Baba sejak dijuluki Juragan Duabelas hingga kini dipanggil Juragan Tigabelas oleh anak buahnya.
    Tahun 2005 Diba mengutarakan niatnya untuk melebarkan sayap dengan membuka galeri. Tidak disangka Baba justru menghibahkan rumah mereka yang lain, yang terletak Jalan Kelimutu. Diba menunggu dua bulan sampai pengontrak terakhir hengkang dari rumah tersebut, dan memulai pekerjaan panjang yang melelahkan.
    Atas prakarsa Baba, selain menyewa dua tukang bangunan untuk merenovasi rumah tersebut, Diba dibantu pula oleh Paman Rulah, Paman Said, dan Paman Kemal. Ketiga paman yang tidak berhubungan darah langsung dengannya namun sudah dianggapnya paman sendiri.
    Dinding bagian depan diganti dengan kaca, termasuk pintu, mengecat tembok dengan warna-warna cerah, atap yang bocor diperbaiki, barang-barang yang tidak perlu disingkirkan ke garasi di sisi kiri, dan sebuah kamar dipugar menjadi ruang kerja pribadi. Ruang kerja yang dilengkapi dengan AC dan kamar mandi. Ine menghadiahkan Diba rak-rak kayu cantik untuk memajang tenun ikat yang dijual. Mono, guru besar Diba di bidang internet yang memutuskan tinggal di Jogja ketimbang pulang ke Madiun, mengirimkan hanger berbahan kayu dan besi: unik dan antik. Sebuah meja kasir diperolehnya dengan harga murah dari toko Baba Ahiong yang bangkrut.
    Perkara tersulit adalah merekrut pekerja. Rumah Tenun Ende online, bukan perkara sulit. Mendirikan galeri ternyata tidak semudah yang Diba bayangkan. Lagi, Bibi Meda menawarkan si adik sepupu: Bibi Ani
    “Siap bekerja tanpa bayaran,” bisik Bibi Meda.
    Yang penting makan tiga kali sehari,” gurau Bibi Ani saat pertama kali mereka bertemu di beranda belakang rumah sambil menatap gerimis tipis. Bibi Ani yang kala itu masih melajang di usia 37 tahun memilih untuk pergi dari Pulau Ende, memulai hidup baru di Kota Ende. Cintanya yang berkarat pada lelaki yang menikahi perempuan lain telah ditinggalkannya di pulau itu. Bibi Ani mengajarkan Diba tentang melepaskan, sekalipun sulit. Waktu selalu dapat diandalkan sebagai pelepas segala masalah. Bibi Ani menempati salah satu kamar di galeri, dan itu menguntungkan Diba karena tidak perlu menyewa cleaning service. Galeri selalu bersih, wangi, dan semua benda berada pada tempatnya.
    Menjelang tahun kedua galeri dibuka, Diba dan Bibi Ani mengadakan rapat besar yang dihadiri oleh mereka berdua. Di ruang kerja Diba yang sejuk mereka mencapai mufakat untuk merekrut lebih banyak pekerja. Online maupun offline, Rumah Tenun Ende semakin terkenal. Orderan menumpuk dan Diba kewalahan mengurusi semuanya berdua Bibi Ani. Saat itulah Diba mencetus ide yang sudah lama bercokol di benaknya.
    “Saya mau tempat ini jadi tempat yang sangat menyenangkan, Bi, bukan hanya jadi tempat kita mencari uang,” celetuknya kala itu.
    “Jadi ... bagaimana?”
    “Konsep saya begini, Bi ...”
    Pada tahun ketiga Rumah Tenun Ende Berubah nama menjadi Shadiba’s Corner. Tentu, Diba perlu merenovasi tempat ini. Dia membutuhkan jasa tukang bangunan ...  lagi. Untungnya Paman Kemal berbaik hati menolak untuk mempekerjakan tukang bangunan yang lain.
    “Sudah, Diba ... biar saya dan anak-anak kompleks di sini yang bantu kau,” ujar Paman Kemal saat Diba menghubunginya.
    Diba terkekeh. “Untung ya, Paman, sekarang ada teknologi telepon genggam.”
    “Kenapa bilang begitu?”
    “Kalau tidak ... Paman capek bolak-balik pakai motornya Baba. Belum lagi hampir masuk got di depan Kantor Pelni itu,” gurau Diba.
    “Ha ha ha. Pasti Juragan yang cerita! Hari itu hampir saja saya masuk got!”
    Diba ingat kelanjutan cerita Baba tetang hari kelahiran mereka.
    “Baba ini sudah tarik gas kencang-kecang pulang ke rumah ... eh ... Ine sudah diantar naik oto bemo (angkot) Tri Jaya ke rumah sakit! Kurang ajar sekali si Kemal dan Said itu ...”

    Shadiba’s Corner ibarat burung yang terbang lupa sangkar. Bibi Meda tidak lagi menjadi satu-satunya pemasok tenun ikat. Koneksi Diba meluas: daerah pesisir Pantai Ende, Kecamatan Nangapanda, Desa Koponio di Ndona, Detusoko, Moni, juga Wolowaru. Diba tidak saja berburu tenun ikat tapi juga menjalin hubungan baik dengan para penenun.
    Pada saat itu Magda bergabung dan langsung menduduki ‘jabatan’ bendahara, skretaris, dan admin semua akun online. Azul direkrut menjadi petugas cleaning service sekaligus packer boy. Imar yang sejak awal melamar menjadi cleaning service justru menjadi pelayan galeri ditemani oleh Laila dan Feme. Jeni ditempatkan pada kasir galeri sedangkan Jessica pada kasir kafe. Among yang melamar menjadi koki diterima menjadi koki. Pada tanggal 3 Februari 2010, enam bulan setelah Diba membeli Feroza bekas Baba Ahiong, Petrus direkrut menjadi sopir.
    Dengan bergabungnya Petrus, kini tugas berburu tenun ikat Diba serahkan pada Azul dan si sopir. Sesekali dia turut serta pergi ke Detusoko dan Wolowaru. Seringnya dia malah turun di Pasar Ndu’aria untuk menikmati jagung rebus, membiarkan Azul dan Petrus menentukan tenun ikat yang dibeli dari para Mama penenun di Kecamatan Wolowaru, atau Desa Moni. Kalau urusan telah selesai kedua laki-laki itu akan kembali menjemput Diba di Pasar Ndu’aria. Wilayah terjauh jajahan Diba and the genk adalah Maumere. Diba, Petrus, dan Azul, pernah hunting tenun ikat khas Kabupaten Sikka di Maumere: di pasar maupun langsung dari tangan penenun.
    Sembilan tahun sudah usia Shadiba’s Corner. Sembilan tahun yang penuh perjuangan. Dan Diba menikmati semua ini dengan lapang dan rendah hati. Mungkin karena hidupnya tidak terlalu diatur oleh rencana, dia justru melakukan hal-hal baik pada saat yang tepat.
    “Kalian tidak minta saya gantikan ongkos kue ini ‘kan?” tanya Diba curiga.
    Bibi Ani terkikik mendengarnya. “Tidak, Diba. Kami ikhlas …”
    Azul beda pendapat. “Yaaaah kalau Kak Diba mau menggantikan uang kami … boleh lah!”
    “Kampret!”
    “Ha ha ha …”
    Pukul 09.00 Diba masuk ke ruang kerjanya. Aroma jeruk menyerang indera penciuman. Dia suka. Dia betah berada di ruang kerja ini. Setelah membuka tirai, agar pandangannya ke galeri lebih leluasa, dia menyalakan laptop. Magda muncul, “mau sarapan apa, Kak?”
    “Apa saja.”
    Sepuluh menit kemudian Magda membawa nampan yang di atasnya terletak dua cangkir kopi, sepiring cake ulangtahun, dan dua tangkup roti bakar selai kacang. Magda mengambil secangkir kopi, pergi ke meja kerjanya yang terletak di dekat pintu, lantas menyalakan laptop. Kali ini jaringan internet bukan lagi dial-up yang mahal dan membutuhkan modem sebesar piring itu. Diba berlangganan Speedy. Dia sengaja tidak menggunakan Samsung Galaxy Note miliknya untuk bekerja karena urusan membalas e-mail dan menulis konten blog memang paling yahud menggunakan laptop.
    Setiap hari hampir limapuluh e-mail baru datang ke mailbox Diba. Urutan terbanyak pertama datang dari Facebook: ragam notifikasi. Urutan terbanyak kedua datang dari Twitter: notifikasi mention dan followers. Urutan terbanyak ketiga newsletter—tidak penting. Selanjutnya diisi dengan balasan e-mail dari teman-teman atau satu dua kolega Shadiba’s Corner. Sampai detik ini dia masih berkomunikasi dengan Mono lewat e-mail. Yang paling dibencinya adalah lolosnya e-mail tawaran viagra, atau kondom, atau pembesar payudara, atau jasa nikah siri, ke mailbox. Seharusnya semua itu masuk ke kotak spam.
    Satu e-mail menarik perhatian Diba, terletak diantara tawaran obat kuat China dan newsletter sebuah LSM. Untung tadi saya belum main hapus saja. Batin Diba.
    E-mail dari Ampoi. Diba terkekeh senang. Dia bakal melancong lagi. Kali ini ke Larantuka menemani seorang turis asal Denmark bernama Sheena.
    “Kak,” panggil Magda.
    “Yep?”
    “Jangan lupa hubungi Ucup. Jam duabelas dia jemput Baba dan Ine,” ingat Magda.
    “Sip.”
    “Kak ...”
    “Yep?”
    “Hmmm ... Kak Mira juga ikut makan siang?”
    Diba menggeleng tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop. “Dia juga diundang, tapi macamnya dia punya acara sendiri. Kau tahu lah ... kasmaran ...”
    “Sama laki-laki itu?”
    “Apa perlu saya jawab?”
    “Maaf, Kak.”
    “...”
    ..xXx..

    Pukul 17.30 Wita. X-Trail yang datang dari arah barat Kota Ende itu berhenti tepat di pagar belakang gedung Bank NTT yang berhadapan langsung dengan kawasan hiburan Pantai Ria. Sepanjang Pantai Ria berjejer beach cafe: Pisang Goreng Sam—yang kesohor karena sambalnya itu, Ipank Cafe yang terkenal dengan ikan bakarnya, D’Light, Violet Cafe, Jen Cafe, hingga Pusat Wisata Kuliner Ende yang ditata sedemikian rupa layaknya foodcourt. Hanya saja makanan khas Ende yang dijual di Pusat Wisata Kuliner Ende ini sangat minim. Orang Ende pun jika ingin menikmati makanan khas Ende berburu ke Pasar Mbongawani atau ke Rumah Makan Khalilah yang terletak di dekat Bandara H. Hasan Aroeboesman.
    Mereka sengaja memilih tempat paling dekat dengan bibir pantai, di bawah naungan pohon kelapa mandul karena pertumbuhan buahnya lebih sering dikebiri, dan agak berjauhan dengan meja-meja lain yang berkapasitas lima hingga sepuluh orang. Dua kursi bambu yang diletakkan menghadap ke barat ini berhadapan dengan Pulau Ende. Sunset, yang akan datang sebentar lagi, memang menjadi magnet istimewa dari Pantai Ria.
    “... Mas!” bentak Mira.
    Wawan tergagap. “Ha?” Berapa lama dia mengelamun? Wajah seseorang itu selalu membayang setiap kali, justru, saat dia sedang bersama Mira.
    “Lagi pikir apa sih?” Mira melirik kesal. Sedikit kesal atas sikap Wawan yang akhir-akhir ini lebih mirip pecandu kehabisan kokain. Lebih kesal karena bulan kemarin, tepatnya tanggal 14 Februari 2015, Wawan membatalkan janji kencan mereka dengan alasan pekerjaan. Kekesalan Mira bertambah karena hari ini X-Trail milik Baba baru tiba di rumah menjelang pukul 17.00 padahal dia sudah berpesan pada Baba, hendak memakai mobil tersebut untuk pergi bersama Wawan. Dia memang diundang untuk makan siang di Shadiba’s Corner tapi dia tidak tertarik untuk berkumpul bersama keluarganya. Sejak kembali ke Ende tidak ada satu pun topik yang sanggup dia obrolkan bersama Baba, Ine, Diba, Ucup, apalagi Atha. Namun bibit, sekaligus puncak, dari kekesalannya adalah rayuan ke-sekiannya pada Baba justru berakhir dengan, “tigabelas perahu motor itu milik kalian berempat, Mira. Kalau kau mau menguasai semuanya, kuasai atas nama keluarga bukan atas nama kau seorang. Kalau kau masih ingin menguasai semua perahu motor itu ... kau harus pandai berunding bersama mereka bertiga.”
    “Nggak mikir apa-apa,” sanggah Wawan.
    “Tidak pikir apa-apa kok tampang Mas macam begitu?” serangnya. “Mas tidak perlu kuatir. Tinggal satu kali sidang lagi kok.”
    “Aku nggak kuatirkan itu.”
    “Terus?”
    “Terus apanya, nduk?”
    Mira gemas. “Tampang Mas itu tidak bisa menipu, tahu!”
    “Aku mikir pernikahan kita nanti.” Wawan berbohong.
    “Saya kira Mas lagi pikirkan yang lain ...”
    “Eh, kamu ...”
    “Saya kenapa?”
    Wawan ragu. Apakah pertanyaannya ini tidak akan meninggalkan pertanyaan lain di benak Mira? Tapi dia melanjutkan. “Kamu simpan saputanganku nggak? Aku cari-cari kok nggak ketemu.”
    “Saputangan yang mana?”
    “Warna biru.”
    “Tidak lihat. Terkakhir kali dipakai ... kapan?”
    Wawan menggeleng. “Nggak ingat.”
    “Beli saja yang baru.”
    Bukan perkara membeli saputangan yang baru atau memakai yang lama. Wawan punya berlusin-lusin saputangan di lemari. Saputangan biru itu pemberian seseorang dari masa lalu dan yang menjadi masalah dia kuatir saputangan biru itu jatuh ke tangan ‘orang yang salah’.
    Pramusaji berwajah bulat mengantar dua jus sirsak dan dua porsi roti bakar pesanan mereka. Mila menyambar roti bakar selai duriannya sedangkan Wawan membeku di tempat dia duduk. Perasaannya kian mengacau.
    Bagaimana jika ...?
    “Saya ulangtahun loh, Mas. Masa tidak ada hadiah?” berondong Mira setelah menyedot setengah jus jeruknya. Dia tidak tahan melihat sikap Wawan yang seakan lupa pada hari ulangtahunnya.
    Wawan tersenyum. “Ada ...” dia mengeluarkan sebuah kotak kecil, menyerahkannya pada Mira.
    “Apa ini?” tanya Mira dengan nada sinetron.
    “Buka ...”
    Sebuah cincin emas berinisial huruf ‘M’.
    “Terima kasih, Mas.” Mira bangkit, diciumnya pipi Wawan. “Tapi ini bukan cincin pertunangan kita kan?” dia bertanya jenaka. Jenaka yang palsu.
    “Bukan, Nduk. Aku nggak tega ngasih kamu cincin pertunangan kayak gitu,” sanggah Wawan. Dalam hati dia bertanya-tanya berapa banyak uang yang akan dia keluarkan untuk mengurusi pernikahannya dengan bakal janda ini? Apakah Mira berhasil merayu orangtuanya? Tigabelas perahu motor adalah jumlah yang banyak. Jika tigabelas perahu motor itu diserahkan kepada Mira, maka hidup mereka kelak tak akan berkesusahan. Wawan masih bisa menyisihkan penghasilannya untuk ‘biaya-biaya’ yang lain.
    Mira terkikik senang.
    Wawan gamang.
     

    ***
    Bersambung

    0 komentar:

    Post a Comment

     

    2teh

    Tuteh Pharmantara
    Email: tuteh.pharmantara@gmail.com
    Twitter & Foap: @tuteh
    FB: Tuteh Pharmantara
    WA: 085239014948


    flobamorata
    Internet Sehat

    Advertisement

    Labels