• Start Your Day With Personal Story

    Kedai Bunga Yang Unik dalam Berjalan di Atas Cahaya


    Gambar diambil dari sini. Punya bukunya, tapi males fotoin lagi, ijin kopas hahaha.

    Meskipun sering membaca artikel atau buku digital melalui gadget, tapi esensi membaca buku fisik tidak dapat tergantikan. Oleh karena itu, meskipun jarang tapi sampai sekarang saya masih membeli satu dua buku ... kebanyakan buku hukum *gubrak* hehehe. Munir Fuady, R. Soesilo, Adhami Chazawi, Leden Marpaung, dan seterusnya. Buku fisik itu asyik loh. Setelah baca, bisa dipajang sebagi bukti kecintaan kita membaca buku. Menurut sayaaa. Tapi saya sendiri enggan memajang buku di luar kamar karena bisa berakibat pada 'hilang' gara-gara dipinjam dan yang meminjam lupa mengembalikan hingga abad berganti.

    Salah satu buku favorit saya adalah Berjalan di Atas Cahaya. Jika kalian sudah membaca 99 Cahaya di Langit Eropa, cobalah membaca buku Berjalan di Atas Cahaya dari penulis yang sama yaitu Hanum Salsabiela Rais (dan kawan-kawan) ini. Dari pengakuan penulisnya sendiri, bahwa setelah buku 99 Cahaya di Atas Langit Eropa, dia menerima respon yang luar biasa dari para pembaca yang mengirimkan surel atau pesan pembaca yang menyatakan apresiasi mereka terhadap buku tersebut. Banyak yang mengagumi keterkaitan antara Islam dan Eropa.

    Termasuk saya!

    Tidak, saya tidak mengirim surel atau mengirim pesan, tetapi kekaguman saya pada cerita tentang Islam di Eropa itu menyentuh level galaksi.

    Cerita kedua buku itu tidak sama tapi sama-sama menggambarkan tentang kehidupan kaum Muslim di Eropa. Ada beberapa cerita favorit saya di dalam buku ini salah satunya adalah Neerach yang Mengesankan dengan sub tentang Kedai Bunga Yang Aneh. Adalah pasangan suami-isteri di Desa Neerach (Swiss) yang dipanggil Tuan dan Nyonya Hoffinger. Mereka membuka kedai bunga di desa itu atas dasar kepercayaan. Kedainya tidak dijaga oleh mereka. Sebagai gantinya, ada kaleng-kaleng berisi pecahan mata uang 10 Euro, 5 Euro, koin 1 Euro, dan sen Euro. Apabila ada yang datang membeli bunga, mereka tinggal melihat label harga bunga, lantas meletakkan uangnya di kaleng yang tersedia. Bagaimana jika harus ada uang kembaliannya? Pembeli tinggal meletakkan uangnya, lalu mengambil kembalian dari kaleng lainnya.

    What!? 

    Itu berhasil?

    Iya laaaah. Berhasil.

    Bagaimana jika ternyata uang kembaliannya tidak cukup? Di kedai itu juga tersedia notes dan alat tulis. Tulis saja nama dan alamat serta nomor telepon kalau perlu; nanti Tuan dan Nyonya Hoffinger yang akan mengantarkan uang kembaliannya ke rumah pembeli. As simple as that.

    Kepercayaan adalah inti dari kedai bunga milik keluarga Hoffinger, seperti yang ditulis Hanum. Bagaimana kedai bunga tanpa penjaga itu bisa berjalan adalah karena kepercayaan dari penjualnya. Mempercayai pembeli dengan cara jualan seperti itu memang sulit, tapi nampaknya di Neerach tidak sesulit yang kita duga.

    Bagaimana jika di Indonesia?

    Entahlah, saya belum tahu perihal konsep kepercayaan (kayak fidusia ya hahaha) dalam dunia dagang di Indonesia kecuali sejenis bisnis semacam dropship. Belum pernah saya temui ada warung yang menyerahkan kepercayaan sebegitu besarnya pada para pembeli. Bisa-bisa gulung tikar di hari pertama jualan! Hihihi. Tapi kalau kalian pernah menemukannya, bagi tahu saya donk, harus viral itu hehehe. Nah kan mumpung masih dalam masa puasa, siang-siang ketimbang bengong dan tergoda sama hal-hal yang membatalkan puasa, baca saja buku Berjalan di Atas Cahaya ini. Kalian akan tercengang dengan cerita yang disuguhkan di dalamnya.

    Selamat melanjutkan puasanya, kawan ... lancar jaya ya!


    Cheers.

    0 komentar:

    Post a Comment

     

    2teh

    Tuteh Pharmantara
    Email: tuteh.pharmantara@gmail.com
    Twitter & Foap: @tuteh
    FB: Tuteh Pharmantara
    WA: 085239014948


    flobamorata
    Internet Sehat

    Advertisement

    Labels