• Start Your Day With Personal Story

    Sel-Sel Kelabu Hercule Poirot


    Gambar dari Google.

    Dulu, di rumah kami ada ruang kerja Bapa sekaligus perpustakaan keluarga. Buku-buku yang dipajang kebanyakan buku tentang dunia mengetik dan komputer, buku akuntansi, buku bahasa Inggris, dan tentu saja novel. Waktu itu saya sudah berlangganan komik Tiger Wong dan Tapak Sakti, berlangganan majalah Kunang-Kunang (produksi lokal) dan Bobo, juga nimbrung membaca majalah Tempo dan Intisari. Novel-novel di perpustakaan itu tidak semuanya boleh saya baca. Bapa melarang saya membaca novel karya Agatha Christie. Alasannya: belum cukup umur. Saya bertanya kenapa bisa begitu? Kata Bapa: nanti kau gila. Ah, yang benar saja.

    Oke, apakah saya bisa gila beneran hanya karena membaca sebuah novel? Untuk membuktikannya, saya harus mencoba bukan? Maka, pada suatu malam saya mengendap-endap dan mengambil novel Agatha Christie. Tangan saya mengambil novel yang berjudul Mawar Tak Berduri. Dan saya masih duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar, waktu itu. Sekali membaca Mawar Berduri saya melongo cukup lama karena tidak paham sama jalan ceritanya. Oleh Kakak Ipar saya, Mbak Wati, saya dilarang membaca novel itu lagi. Katanya novel itu bukan untuk anak kecil. Tapi karena saya tidak paham pada bacaan pertama (duh bahasanya), maka saya mengulang membaca Mawar Tak Berduri berkali-kali. Dan akhirnya paham sama jalan ceritanya. Berkali-kali. Emez-emezing. Mengetahuinya, Bapa hanya senyum simpul. Untung Bapa tidak tanya: bagaimana, sudah gila beneran? Sejak saat itu saya tidak dilarang lagi membaca novel Agatha Christie.

    Waktu SMA lompatannya jauh ya dari SD langsung SMA haha saya berteman dengan Virgi. Ternyata, ensiklopedia bernyawa itu juga penggemar berat AC. Akhirnya kami sering tukar-menukar membaca novel Agatha Christie. Itu kami lakukan setiap akhir pekan.

    Dame Agatha Mary Clarissa Christie, atau Agatha Christie memang punya talenta kuat menulis kisah detektif meskipun dia mengaku terinspirasi dari penulis-penulis seperti Arthur Conan Doyle dan Edgar Allan Poe. Agatha Christie menulis 66 novel detektif dan 14 cerita pendek. Dua tokoh utama di dalam novel-novel Agatha Christie adalah Hercule Poirot dan Miss Marple. Hercule Poirot digambarkan bertubuh pendek, kumis abu-abu melintang (mirip Pak Raden) dan selalu identik dengan 'sel-sel kelabu' di dalam otaknya yang bekerja dengan cara-cara misterius. Miss Marple tipe keibuan dengan insting setajam sembilu. Tapi Hercule Poirot sangat menonjol. Dialah tokoh khayalan yang sama suksesnya dengan tokoh khayalan lain: Sherlock Holmes.

    Dari semua novel Agatha Christie saya paling suka membaca Buku Catatan Josephine. Membaca Buku Catatan Josephine saya teringat pada The Naked Face karya Sidney Sheldon. Menurut pendapat pribadi saya, ada benang merah yang membuat keduanya mirip-mirip sedap. Entahlah menurut kalian. Tapi jelas Buku Catatan Josephine lebih 'garang' karena dilakukan oleh anak sekecil itu, dengan tulisan paling mendebarkan yang muncul di bagian akhir buku yaitu: HARI INI AKU MEMBUNUH KAKEK.

    Kamvreeeeetttt!

    Back to Hercule Poirot dan sel-sel kelabunya. Sudahkah kalian menonton filem berjudul Murder on the Orient Express? Filem ini diadaptasi dari novel Agatha Christie berjudul sama yang diterbitkan tahun 1934. Murder on the Orient Express adalah filem drama misteri keluaran tahun 2017 yang disutradarai oleh Kenneth Branagh. Sebuah novel yang difilemkan tentu tidak menampilkan keseluruhan isi novel tersebut. Bisa kalian lihat di Harry Potter, misalnya. Namun karena sudah membaca novelnya, saya tidak perlu mengerut kening lagi hanya karena bingung tentang sosok Hercule Poirot atau para penumpang lain yang tampaknya canggung (canggung satu sama lain karena mereka menyimpan rahasia konspirasi).

    Di awal filem, sosok Poirot sudah cukup dijelaskan melalui kasus yang terjadi di Yerusalem. Bahwa dia seorang detektif andal yang perfeksionis apalagi soal sarapan dua butir telur berukuran sama. Sosok Poirot di novel sangat terwakilkan di dalam filem. Kumis kelabu dan mata 'awas'nya itu menguatkan sosok Poirot yang diperankan oleh Kenneth Branagh. Usai mengungkap kasus di Yerusalem, Poirot melanjutkan liburannya. Jarang-jarang dia bisa menikmati waktu libur karena selalu saja ada pihak yang membutuhkan bantuannya memecahkan kasus (kebanyakan pembunuhan) baik itu perorangan maupun pemerintah. Dalam perjalanan kembali ke London menggunakan kereta api Orient Express, terjadilah pembunuhan di dalam kereta api tersebut. Di sinilah Poirot betul-betul harus merelakan waktu liburnya karena Boug (Tom Bateman), sahabat Poirot sekaligus direktur pengelola Orient Express, meminta bantuannya untuk menyelidiki pembunuhan ini.

    Semua orang bisa jadi tersangka. Begitulah kira-kira yang bakal hadir di benak kalian saat menonton, apalagi buat yang pernah sekolah hukum (cieee). Tapi ceritanya tidak semudah yang dibayangkan (kecuali bagi yang sudah pernah membaca novelnya). Kalian boleh menebak, tapi kalian tidak tahu siapa. Saya sendiri menganggap Murder on the Orient Express ini sebagai titik sisi kemanusiaan Poirot teruji. Dia harus mengalahkan dirinya sebagai seorang detektif. Sel-sel kelabunya hampir saja dibikin frustasi karena mencurigai si Itu, si Ini, si Anu. Ceritanya ... tidak mungkin saya tulis semuanya di sini. Kalian harus menonton sendiri untuk mendapatkan pengalaman kisah Agatha Christie yang cukup fenomenal karena tidak melibatkan proses penangkapan atau upaya paksa haha (khusus di dalam Murder on the Orient Express). Yang jelas semua tokoh di dalam Murder on the Orient Express dihubungkan dengan benang merah yang kuat yang saya sebut: kasih sayang. Ya, kasih sayang yang besar pada seseorang akan membuat kita mampu untuk memberi pelajaran pada 'si bajingan' dengan cara paling tidak terduga.

    Murder on the Orient Express diperankan oleh aktor-aktris yang namanya sudah tidak asing lagi di kuping kalian. Penélope Cruz sebagai Pilar Estravados, Willem Dafoe sebagai Gerhard Hardman, Judi Dench sebagai Princess Dragomiroff, Johnny Depp sebagai Edward Ratchett, Josh Gad sebagai Hector MacQueen, Derek Jacobi sebagai Edward Henry Masterman, Leslie Odom Jr. sebagai Dr. Arbuthnot, Michelle Pfeiffer sebagai Caroline Hubbard, Daisy Ridley sebagai Mary Debenham, Marwan Kenzari sebagai Pierre Michel, Olivia Colman sebagai Hildegarde Schmidt, Lucy Boynton sebagai Countess Elena Andrenyi, Manuel Garcia-Rulfo sebagai Biniamino Marquez, Sergei Polunin sebagai Count Rudolph Andrenyi, Tom Bateman sebagai Bouc, Miranda Raison sebagai Sonia Armstrong. Karakter mereka menjadi sangat kuat didukung kemampuan akting yang sangat mumpuni.

    Bagaimana, akhir minggu ini mau pilih nonton filem atau membaca buku? Tapi kalau mau baca buku sekalian nonton filem, Murder on the Orient Express adalah jawabannya.

    Selamat berakhir pekan.


    Cheers.

    0 komentar:

    Post a Comment

     

    2teh

    Tuteh Pharmantara
    Email: tuteh.pharmantara@gmail.com
    Twitter & Foap: @tuteh
    FB: Tuteh Pharmantara
    WA: 085239014948


    flobamorata
    Internet Sehat

    Advertisement

    Labels

    Backpacker (53) Blogger (27) BlogPacker (32) Buku (23) Daily (35) Ende (107) Filem (13) Flores (11) Indonesia (10) Inspirasi (177) Jalan-jalan (39) Kabupaten Ende (9) Kaki Kereta (18) Komunitas (6) Komunitas Blogger NTT (15) NTT (47) Nusa Tenggara Timur (31) Quotes (6) Review (47) Thought (33) Traveling (61) Yellow (3)