• Start Your Day With Personal Story

    Saphire OFX




    Videografer adalah magician. Menurut saya. Karena videografer, apalagi videografer merangkap penyunting video, dapat mengubah video amatir sekalipun menjadi spektakuler melalui keahliannya menjahit video. Tentu saja, video spektakuler tidak terlepas dari aplikasi penyunting yang menyediakan banyak dukungan moril seperti tingkat ketajaman, korektor warna, kecerahan, dan lain sebagainya. Kita patut berterimakasih pada penyunting video yang beredar di dunia ini seperti yang paling mudah ditemukan Windows Movie Maker; yang lainnya adalah Ulead Video Studio, Sony Vegas yang dikenal juga dengan nama Sony Movie Studio Platinum, hingga yang paling keren macam Adobe Premiere (I'm so damn dead want this one but my laptop doesn't support it). Itu sih yang saya tahu, kenal, dan pernah gauli. Masih banyak kok aplikasi penyunting video lainnya. Tinggal dipilih dipilih.

    Salah satu elemen dari aplikasi penyunting yang saya suka adalah transisi. Bagaimana antara satu scene ke scene lainnya dijahit menggunakan transisi ini, menjadi begitu penting, agar video tidak terlihat patah. Beberapa video memang tidak membutuhkan transisi, tapi beberapa video lainnya alangkah kecenya jika memakai transisi, apalagi video-video kreatif. Kadang-kadang, pekerjaan menyunting video, a la saya, lebih lama pada pilihan transisinya ketimbang menyetarakan warna.
     
    Meskipun bukan videografer profesional, tapi saya sering merekam, dan menyunting video (hasil dari kegiatan ini lumayan banget loh, bisa buat jajan beberapa bulan). Macam-macam aplikasi penyunting sudah saya gunakan. Jaman dulu, sebelum tahun 2000 saya diajarin (alm) Kakak Toto Pharmantara menyunting video menggunakan aplikasi penyunting bernama Ulead Studio Video 1. Untuk memaksimalkannya, harus menggunakan aplikasi lain seperti VCD Cutter (adoh, tahun lampau banget ya!?) dan iFilmEdit. Buat nyari kesalahan rekaman (layar biru) atau rekaman yang tidak dibutuhkan (yang ngerekam lari-lari tanpa mematikan perekam), mata harus pantengin video itu, memotongnya/membuangnya. Musim bergulir, Ulead pun terus berinovasi hingga saya pernah memakai Ulead Video Studio 11 (tahun 2014).

    Bolak-balik antara Windows Movie Maker dan Ulead Video Studio 11, pada akhirnya mendamparkan saya (duh, bahasanya) pada aplikasi peyunting bernama Sony Movie Studio Platinum Awards. Dulunya  lebih dikenal dengan nama Sony Vegas. Adalah Martozzo Hann, fotografer dan videografer Ende, yang sudah rela memperkenalkan aplikasi ini pada saya. Dia juga yang menggantikan Sony Movie Studio Platinum dari yang 12 ke yang 13 di laptop saya. Sebenarnya perbedaan dua versi ini tidak begitu signifikan. Mengapa saya tidak memakai Adobe Premiere? Dulu sih pernah diinstal di Toshiba (laptop yang pernah jebol itu) tapi kemudian karena jebol ya hilang lah programnya. Laptop yang sekarang masih corei3, berat banget sama Adobe Premiere padahal sudah diinstal dari seorang videografer kece juga yang namanya Alan (pemilik Rafa Media Creative) hahaha.

    Semakin lama menggunakan Sony Movie Studio Platinum, semakin saya merasakan kekurangannya pada transisi. Transisinya yang itu-itu saja; 3D (Blinds, Cascade, Shuffle), Dissolve, Flash, Gradient Wipe, Iris, Page (Loop, Peel dll), Swap, Zoom. Benar-benar kurang. Oleh karena itu saya mencari transisi plugin yang bisa dipakai di aplikasi penyunting ini. Ada sih rekomendasi beberapa tapi setelah dicoba, gagal. Dari Alan, dengan transisi Chung Da (atau Sam Kholder) yang dipakai di Adobe Premiere, saya coba-coba ke Sony Movie Studio Platinum, gagal juga. Ini coba-coba nekat tanpa hadiah. Akhirnya saya coba mencari lagi, kali ini lebih serius, lebih fokus, lebih teliti. Betul kata orang, kalau lebih fokus, lebih mudah menyelesaikan segala sesuatunya. Maka, bertemulah saya dengan SHAPIRE OFX!

    Serius? Itu batu safir?

    Bukan batu safir. Itu Shapire OFX, sebuah plugin untuk transisi yang bisa dipakai di Sony Movie Studio Platinum. Cara instalnya mudah dan cepat. Banyak sekali transisi dalam paketannya seperti Bubble, Defocus, Glare, Luma, Puddle, dan lain sebagainya. Ibaratnya seperti menemukan harta karun. Tinggal bagaimana kita menggunakannya pada setiap sambungan scene. Cara pakainya pun sama dengan transisi bawaan. Shapire OFX sangat menolong saya ketika menyunting video-video kreatif. Rasanya kegiatan menyunting dan menjahit lebih menyenangkan dari sebelumnya karena banyak pilihan transisi. Kalau kata Orang Ende, jadi lebih makan puji dalam menyunting video. Kebetulan ada empat video yang menumpuk yang harus dikerjakan, dengan adanya Shapire OFX, sekalian uji coba.

    Saya lega bisa menulis ini. Mungkin saja di luaran sana masih banyak videografer, pemula, yang kesulitan mencari transisi kece untuk Sony Movie Studio Platinum. Jangan kuatir, selalu banyak jalan menuju Roma. Shapire OFX adalah jawaban mudah untuk kita. Tapi bagi videografer profesional, postingan ini mungkin tidak bermanfaat apa-apa, hanya sebagai penggeli perut hahaha.


    Cheers.

    2 komentar:

     

    2teh

    Tuteh Pharmantara
    Email: tuteh.pharmantara@gmail.com
    Twitter & Foap: @tuteh
    FB: Tuteh Pharmantara
    WA: 085239014948


    flobamorata
    Internet Sehat

    Advertisement

    Labels