Triplet ~ Part 12

- Sunday, June 10, 2018


Triplet adalah tulisan lawas saya yang tidak diterbitkan dalam bentuk buku karena ceritanya lumayan absurd. Saya memutuskan untuk menerbitkannya di blog, part demi part. Karena keabsurdannya, komentar kalian tidak akan saya tanggapi kecuali buat lucu-lucuan. Ini bukan pembelaan diri, ini bela diri dengan jurus menghindar. Selamat membaca Triplet.

***

PART 12


~ Jakarta ~
29 Maret 2015

“Mantan adalah jodoh orang lain yang pernah menjadi kekasih kita.” – Anonim.

Pukul 11.20 WIB. Lantai 5 Gedung Mahamedia Corps, bilangan Kuningan, Jakarta. Lima kali Margaret membaca tulisan berhuruf raksasa pada dinding di belakang front officer berambut kriwil: Tabloit Online Perempuan Hebat Kita, dengan tagline: Membawa Perubahan Untuk Perubahan. Lebih dari dua belas kali dia menatap jam dinding berlogo perusahaan tabloit online ini, dan memaki. Dalam hati dia bertanya apakah Pram juga memaki saat dia membatalkan pertemuan mereka bulan lalu? Bodo amat! Siapa yang sangka delapan belas jam setelah dia menyetujui untuk datang ke gedung ini, tawaran menggiurkan itu datang? Dia pernah berkata pada salah seorang pengurus Internationalle Media, “orang-orang IM ini parah! Sinting! Tapi, untungnya, sintingnya orang-orang IM bikin aku happy.”
Margaret bangkit menuju front office. “Masih lama?” dia bertanya dengan nada tak sabar, dan mengharapkan jawaban yang berbeda.
“Masih,” jawab Si Kriwil. Jawaban yang sama. “Maklum, Mbak, ini bukan pertemuan biasa.”
“Oh ya?” alis Margaret terangkat.
“Pihak televisi juga hadir. MahamediaTeve,” jawab Si Kriwil. “Gosipnya ... profil Perempuan Hebat Kita bakal di-visual-kan!” mata Si Kriwil berbinar-binar. Gambaran karirnya di masa depan melintas.
Bukan urusanku! Yang aku tahu, bos kamu ngemis-ngemis minta aku datang jam sepuluh tiga puluh! Sudah lebih dari kata telat, tahu! Jangan dikira karena aku nggak kerja kantoran macam kamu, aku nggak benar-benar punya kerja. Kerjaanku banyak, tahu!
Margaret kembali duduk. Diambilnya majalah dari atas meja, membalik halaman demi halaman tanpa minat karena hanya berisi artikel tentang artis, artis, dan artis. Jika bukan karena laki-laki yang pernah mematahkan hatinya itu mengemis, belum tentu dia rela menghabiskan waktunya untuk menunggu.
Si Kriwil menghampiri Margaret, menyodorkan sebuah buku tebal berjudul: Antologi Perempuan Hebat Kita [Juni – Desember 2014]. “Kalau Mbak berminat,” ujar Si Kriwil. “Kumpulan profil perempuan hebat yang dibukukan atas inisiatif Bang Pram. Limited edition,” tandasnya bangga.
Sesekali Margaret membuka website Perempuan Hebat Kita, membaca artikel dan profil perempuan hebat dari seluruh Indonesia versi tabloit online ini. Ciri khas Perempuan Hebat Kita adalah profil perempuan yang diangkat, dipandang hebat, tidak selamanya selebriti. Dia pernah membaca profil Greiche Dian, perempuan Indonesia yang sukses mendulang Ringgit di Malaysia lewat bisnis rumah makan masakan Indonesia.
Asal-asalan Margaret membuka buku yang dia letakkan di pangkuan. Terpampang foto close up seorang perempuan berwajah metropolis dengan latar belakang tanaman ubi. Dia membalik halaman sebelumnya. Judul profil perempuan ini: Sulastri, Sarjana Pertanian yang Bergumul dengan Umbi. Sekilas tentang Sulastri mengingatkan Margaret pada perempuan-perempuan pemetik teh saat dia nge-trip ke Pengalengan, Jawa Barat. Mereka memang hebat. Menghitung para pekerja di ladang, perempuan memang kalah jumlah namun perempuan-perempuan ladang sanggat tangguh karena berani menantang sinar matahari tanpa sunblock.
Profil berikutnya, perempuan asal Padang. Upik Febrianti: Hobby yang Mendatangkan Uang. Margaret mengangguk-angguk membaca profil Upik Febrianti yang gemar membuat nastar dan bolu bekal hari raya. Dari sekadar hobby menjadi bisnis rumahan yang laris manis. Margaret kenal lebih dari sepuluh perempuan yang sukses berbisnis rumahan; bisnis kukis, bisnis makanan, bisnis pakaian, ada pula yang bisnis di atas bisnis semacam reseller dan dropship.
Pukul 11.45 ekor mata Margaret menangkap gerakan Si Kriwil berdiri. Refleks dia menoleh. Akhirnya pintu yang pada bagian atasnya bertulis: meeting room membuka. Empat orang laki-laki berusia kira-kira di atas limapuluh dan berpakaian necis keluar, disusul beberapa laki-laki dan perempuan, tentunya berusia jauh lebih muda, berpakaian kasual dan trendi.
Pram muncul kemudian didampingi perempuan jangkung berambut legam dengan kacamata pantat botol bertengger di hidungnya yang mancung.
Kacamata itu ngerusak segala kelebihan kamu, Nyir. Ngerusak!        
Sorry, rapat dadakan.” Pram menarik Margaret, memeluknya sesaat. “Kamu kurusan,” kritiknya.
“Hai, Margaret,” sapa Dania. Dania yang nyinyir.
Margaret menyambut cipika cipiki Dania, yang dia juluki Si Nyinyir, dengan tidak ikhlas. Mereka berbasa-basi sejenak membahas cuaca Jakarta, kemacetan, dan bajaj. Dania berlalu, menghilang ke sebuah ruangan yang pada pintunya menggantung papan nama bertulis: Chef – Pramudya Bachtiar.
“Ada apa?” tanya Margaret tanpa basa-basi, seperti kebiasaannya setelah mereka saling menjauh.
Pram mengajak Margaret ke pantry. Setelah mengusir seorang office boy yang sedang asyik menonton teve, Pram meminta Margaret untuk duduk. “Kamu sedang nggak tagih hutang kan?”
Ogah-ogahan Margaret menghempaskan pantatnya di kursi. Tidak seempuk sofa pada ruang tamu tadi namun setidaknya dia tidak sekesal tadi, menunggu tanpa kabar pasti kapan pertemuan selesai.
“Kenapa kita nggak ngobrol di ruang kerja kamu saja?” tanya Margaret.
“Aku nggak mau Dania tahu.”
“—oh.” Margaret melipat tangan di dada. “So? What’s the topic?
“Kronologisnya ... panjang,” mulai Pram. Dia tidak ragu untuk bercerita tentang mimpinya tapi dia bingung harus dari mana memulai.
Pintu pantry membuka. “Bang Pram!” Vera berdiri di pintu pantry. “Draft tabloit edisi bulan Agustus sudah saya titip di Dania,” lapornya.
“Siapa yang ngisi profilnya?”
“Shadiba Pua Saleh. Dari Ende,” jawab Vera. Dia perlu menambahkan, “Kabupaten Ende, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur.”
Kuping Margaret berdiri laksana kelinci. Dari milyaran penduduk bumi, dia hanya pernah mengenal satu perempuan sinting bernama Shadiba, teman seperjalanannya dulu saat traveling keliling Provinsi Jawa Barat. Dan Shadiba Pua Saleh ... the one and only. Kalau benar itu Shadiba Pua Saleh yang dimaksud ...
Margaret menoleh pada Vera. Dia melewatkan ekspresi wajah Pram melotot sempurna, ragu pada pendengarannya sendiri. Dari Ende!
“Itu ...” suara Margaret dipangkas suara Vera.
“Shadiba Pua Saleh. Seorang pelancong, seorang perempuan mandiri yang punya usaha kece, dia juga seorang blogger, daaaan yang juga nggak kalah  penting, dia sangat antusias mengangkat isu pariwisata hampir di semua konten blog dan media sosial,” cerocos Vera.
Deal.” Pram mengacung jempol. Dia kuatir jantungnya yang mendadak lebih cepat berpacu terdengar oleh Margaret. Shadiba Pua Saleh. Dari Ende. Danau Kelimutu terletak di Kabupaten Ende. Ende, ke sana lah aku akan pergi bersama ... Margaret.
“Shadiba Pua Saleh,” geram Margaret setelah sosok Vera menghilang dari pintu pantry.
“Dari Ende.” Pram menatap Margaret penuh harapan. “Tuhan sudah mengaturnya seperti ini. Pasti. Ini rencana Tuhan.”
“Maksud kamu?” tanya Margaret.
Meluncurlah cerita Pram tentang mimpinya, kawah warna hijau dan kawah warna merah, dan hasil pencarian di Google. Dia ingin mengajak Margaret ke kota kecil Ende.
“Kita bisa manfaatin dia untuk membantu ...”
“Nggak usah nunggu dia diwawancarai sama tabloit kamu, Pram. Aku nggak cuma sekilas kenal si Diba itu. Aku pernah tidur setenda dengan dia di Batu Karas. Bayangkan ... kami lebih memilih tenda ketimbang kamar nyaman di Java Cove yang dibayarin sama panitia!”
“Jadi ... kamu mau temani aku ke Ende?” harapan membuncah di dada Pram. Cerita Margaret tentang pernah tidur setenda bareng Shadiba Pua Saleh bisa dilanjutkan nanti. Terpenting dari semua ini adalah Margaret mau menemaninya ke Ende.
“Tentu. Sudah lama aku nggak ketemu perempuan sinting itu.”
“Shadiba?”
Yess.”
“Kamu bisa hubungi dia sekarang, Mar?”
“Bisa. Setelah kamu cerita ada apa sebenarnya sampai-sampai kamu gigih banget pengen ke Ende,” jawab Margaret dingin. “Nggak mungkin kamu mau ke Ende cuma untuk buktiin, atau ketemu, perempuan dalam mimpi kamu. Siapa namanya tadi? ... ah, Sarasta! Aku bukan anak kecil, Pram,” lanjutnya. “Ada kepentingan apa kamu ngotot mau ke Ende?”
Pram tercekat karena begitu mendadak Margaret mengubah manuver. Inilah ketakutan terbesarnya. Kepercayaannya pada kebetulan sudah luntur namun kepercayaannya akan dendam Margaret pada Prita masih kuat. Apakah Margaret mau menemaninya ke Pulau Flores jika tahu tujuan yang sebenarnya? Karena dia tahu alasan pembuktian sebuah mimpi, mencari perempuan bernama Sarasta ... adalah alasan kelas babi.
Pram ingat informasi dari Subhan, “selama ini dia hidup tenang di sana jadi PNS, Bang. Bangsat itu ... kalau ketemu saya ... hajar sampai teler!” Dia berterima kasih pada Avila, sahabat karib Subhan, yang bertindak nekat a la detektif menyusup ke dalam keluarga itu sebagai kekasih salah seorang saudara sepupu laki-laki itu sehingga informasi-informasi penting terkait laki-laki yang dia juluki durjana itu terkuak.
“Kalau kamu nggak mau cerita ... ya, sudah!” Margaret berdiri. “Percumaaaa aku ke sini. Nggak mutu! Nungguin kamu berabad-abad dan hasilnya begini!” ujarnya. “Aku nggak mau jadi si buta yang cuma bisa meraba-raba, Pram.”
Pram berdiri, meraih tangan Margaret, berusaha menenangkan. “Sabar, Mar. Janji keputusan kamu nggak akan berubah kalau tahu alasan yang sebenarnya?” tawar Pram.
Margaret terdiam. Lama. Lantas kembali duduk. Bibirnya bergerak-gerak. Dia berpikir. Apa ruginya? “Oke.”
It’s about Prita ...” Pram mulai bercerita. Pelan. Hati-hati. Terarah. Dia ingin Margaret paham.
It’s not about your pretty-high-class-sister. It’s about revenge!
If you say so ...” Pram mengacak rambut. “Aku cuma pengen laki-laki itu tahu. Dia nggak bisa bertingkah seenaknya sama keluarga Bachtiar.”
“Yea, yea yea ... keluarga KAYA Bachtiar.”
“Mar ...”
Margaret sengaja menjadikan ini momen paling menegangkan untuk Pram. Sesungguhnya dia penasaran tentang kebenaran keberadaan laki-laki yang dicari Pram. Sesungguhnya dia sudah memantapkan tekat untuk menemani Pram pergi ke Pulau Flores (kapan lagi bisa ke Pulau Flores dan gratis?) untuk menebus janjinya yang tertunda hingga lewat sebulan. Sesungguhnya dia ... masih mencintai laki-laki ini.
“Garuda.”
“Maksudnya?”
“Aku nggak mau maskapai yang lain. Harus Garuda.”
Pram bangkit. Dia menarik Margaret, memeluk erat. “Terima kasih, Mar,” bisiknya.
Margaret melepas pelukan Pram secepat dia bisa. “Gadget kamu mana?” pintanya.
Pram mengeluarkan S-5. “Kamu mau ngapain, Margaret?”
“Kita lihat profil Facebook si Diba,” seru Margaret. Jemarinya lincah meluncur di layar S-5. “Ini dia ... Shadiba Pua Saleh!” dia menunjuk layar S-5 pada Pram. “Shadiba Pua Saleh yang sinting itu!”
Foto seorang perempuan yang sedang berada di atas sampan, tertawa bahagia, mengundang siapa pun yang melihatnya untuk turut tertawa.
“Sarasta ...?”
Pram tercekat. Dunia seperti berhenti ber-rotasi.
Dejavu.
“Shadiba,” ralat Margaret.
“Dia mirip ... Demi Tuhan, Margaret ...” nafas Pram memburu. “Dia mirip perempuan yang aku ceritakan tadi. Perempuan dalam mimpiku. SA-RAS-TA.”
Margaret bengong level galaksi.
“Ini bukan kebetulan,” desis Pram. “Ini takdir.”
“Tapi dia adalah Shadiba Pua Saleh, Pram! Bukan Sarasta-Someone from your dream!”
“Tapi wajahnya ...”
Margaret membongkar koleksi foto di Facebook Diba. Tangannya mulai bergetar. Semakin lama getarannya semakin hebat.
What? Margaret!”
Margaret melempar S-5 Pram ke atas meja.
Damn! Perempuan sialan!” maki Margaret.
Pram menunjukkan reaksi yang sama ketika melihat koleksi foto di Facebook Diba. Pada Album berjudul ‘Family’ nampak foto dua perempuan ibarat pinang dibelah dua.
Twin ... Sharasta,” ujar Pram. Kali ini dia menyebut nama Sharasta, bukan Sarasta.
“Dia nggak pernah cerita! Jadi mana aku tahu?”
“Kamu nggak sering online untuk cari tahu, atau sekadar ngecek statusnya Shadiba kan, Mar? Padahal kalian berteman. Handphone kamu itu ... harusnya udah diganti sama yang teknologinya lebih canggih. Jadi kamu nggak usah nunggu ketemu laptop dan modem buat oprek blog dan Facebook,” ujar Pram. Bukannya menghina, tapi Margaret seperti manusia jaman batu di era moderen.
Margaret mencibir. Matanya ganas menatap Pram. “Handphone aku ini contoh paling baik yang menunjukkan pada kalian bahwa aku adalah tipe manusia yang mementingkan fungsi, bukan gaya!”
“...”
“Lagi pula dari pada buat beli gadget, meding duitnya buat beli tiket promo ...”
Pram hanya bisa tersenyum.

***
Bersambung
Advertisement

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search