#PDL Selempang Unik dari Pengungsi

- Friday, March 30, 2018

#PDL adalah Pernah Dilakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini, terutama tentang perjalanan ke tempat-tempat di Pulau Flores dan di luar Kota Ende. 
 
Suatu kali saat Flobamora Community (Komunitas Blogger NTT) mengantar bantuan kepada pengungsi korban erupsi Gunung Rokatenda di Desa Aewora - Kecamatan Maurole, bertemulah saya dengan seorang Bapak pengungsi yang memakai tas selempang mini seperti pada gambar di atas. Si Bapak sedang berdiri agak jauh dari lokasi pick up yang memuat beras dan segala macam kebutuhan pengungsi yang sudah kami packing per desa. Wah, cakep! Kata saya dalam hati. Bukan, bukan si Bapak yang cakep, tapi tas selempangnya. Jantung saya berdenyut lebih cepat saat melihat benda-benda seperti itu, rasanya ingin segera mendekapnya dan membawanya pulang. Bukan, bukan si Bapak yang ingin saya dekap dan bawa pulang, tapi tas selempangnya.
 
Dengan mata penuh ketertarikan, gestur yang cukup diketahui sebagai gestur ingin memiliki *tsah* saya menyatakan niat untuk membeli seandainya dijual. Dengan tatapan penuh haru si Bapak berkata, "Minggu depan kalau Ibu datang lagi, saya kasih saja. Sekarang ini penuh dengan sirih, pinang, kapur." Dan beliau berkata, "Betul kah Ibu suka tas jelek begini?" Saya pun mengangguk. Benda-benda unik, tradisional, selalu menarik minat saya jauh lebih besar ketimbang cowok-cowok cakep di luar sana. Kecuali cowok-cowok itu lebih cakep dari Ryan Reynolds.

Minggu berikutnya, selempang mini yang terbuat dari anyaman daun lontar (atau sejenisnya) berpindah tangan menjadi milik saya. Sepulang dari Desa Aewora, selempang ini saya bersihkan dan simpan di lemari untuk nanti dipakai sewaktu-waktu. Sesekali saya pakai jika sedang pengen, berganti-ganti dengan selempang lain seperti selempang khas dari Nagekeo berwarna biru yang dikasih oleh Benny Reo. Tidak ada niat sedikitpun untuk mengganti tali selempangnya, atau membikin si anyaman menjadi lebih kinclong. Biarkanlah seperti itu, apa adanya. Karena, yang berkilau belum tentu cocok untuk semua orang. Bukan begitu?

Saya pernah, pernah melakukan itu. Untuk apa yang saya inginkan. Tapi tentu saja bukan asal meminta. Selayaknya saya bertanya tentang kesediaan mereka menjualnya, atau orang atau tempat yang juga menjual barang yang sama. Jika seandainya mereka menawarkannya gratis, itu adalah berkah. Sama seperti secangkir kopi gratis yang selalu saya buru jika melakukan perjalanan ke luar kota masih dalam wilayah Pulau Flores. Apakah kalian pernah melakukan perbuatan yang sama?
 
Kok mendadak jadi ingin meneguk secangkir kopi gratis lagi?
Apakah ini kode untuk mengisi liburan dengan jalan-jalan lagi?
Maybe ...


Cheers.
Advertisement

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search