Pemulung Rupiah

- Tuesday, February 20, 2018
Tempat tissu berbahan koran, potongan karton, dan kertas kado.


Saya adalah orang yang gemar melakukan tindakan 'tahan sementara'. It means, ketika saya tidak punya pot bunga tapi punya banyak bibit daun sop, maka botol plastik bekas air mineral dapat dimanfaatkan sementara untuk bibit-bibit tersebut. Ketika Samsung Tab 3 teman kelindas fuso meninggalkan back-cover Tab yang masih utuh, maka back-cover itu saya gunakan sebagai alas pot kaktus berukuran mini yang terletak di atas meja ruang tamu. Contoh lain, ketika laci penyimpanan hijab begitu amburadul, saya menggunakan potongan kardus untuk membuat sekat-sekat yang dapat menyimpan gulungan hijab dengan sangat rapi. So, yang tadinya bermaksud 'tahan sementara' menjadi 'tahan seterusnya'. Karena, ketika sudah berfungsi dengan baik, maka gaya dapat menyusul kapan-kapan ... kemudian ... kalau ada uang.
Sudah lama saya insomnia. Gara-gara itu saya jadi susah tidur. Kenal Brightside sebagai pengantar tidur belum lama. Dulu-dulu, saya suka sekali membaca segala macam hal, dari yang remeh-temeh sampai yang digdaya, hanya agar bisa tidur (atau ketiduran). Salah satu yang paling suka saya kepo-in sampai kadang justru memperparah insomnia adalah tentang craft, tentang do it yourself alias DIY. Siapa yang tidak gemas coba, melihat orang-orang sukses mendaur ulang banyak barang bekas menjadi barang baru yang cantik! Modalnya cuma koran, botol, kardus, celana jin, kaos, pallet, karet, dan lain sebagainya. Tentu, satu modal utama adalah kreatifitas.

Menurut sebagian orang, menjadi kreatif itu tidak mudah karena kemudahan sudah disediakan oleh toko-toko yang menjual tas, hiasan dinding, keranjang, pot bunga, sofa, rak serbaguna, atau phone holder. Namun, mereka harus tahu bahwa kreatifitas membuat segalanya menjadi lebih mudah. Oh, tentu, saya tidak bilang saya adalah orang yang kreatif, sudah banyak orang lain yang lebih dulu melakukan apa yang kemudian saya lakukan. Tapi, sudah banyak hal yang saya lakukan untuk mempermudah hidup tanpa harus mengucurkan extra money gara-gara insomnia berujung situs craft dan DIY. Hahaha. Can you believe it? 

Dan saya, yang sudah terbiasa dengan tindakan 'tahan sementara', yang suka memanfaatkan apa saja barang nganggur untuk menyelamatkan situasi tertentu, akhirnya terarahkan. Haha. Bahasanyaaaaa ... terarahkan. Diarahkan oleh insomnia *LOL!*

Tidak mudah, memang. Kelihatannya gampang. Ah, cuma koran diplintir-plintir terus jadi gitu. Setelah dilakoni, susah juga. Namun karena sudah biasa, ya jadi terbiasa. Banyak hasil craft atau DIY saya yang dulu saya berikan secara gratis ke orang-orang. Udah, kamu mau dibuatin apa? Sini, kasih ke saya bahan baku atau barang bekasnya, nanti saya bikinkan desk-organizer, atau kotak cantik, atau tempat pinsil. Kemudian keahlian meningkat, karena kebiasaan itu, jadi banyak barang yang bisa saya bikin dari barang-barang bekas. Terutama yang paling saya sukai adalah anyaman koran; jadi keranjang, tempat tisu, atau tempat sampah.

Awalnya lucu. Mamasia geleng-geleng kepala setiap kali saya pulang kantor sambil menenteng kresek berisi koran, kardus, dan botol bekas. Dan Amak pasti bergarap isi kresek itu makanan favoritnya (kan awesome kalau Ratu Perak sekresek merah gede itu hahahaha). Awalnya selalu ada yang rusak. Semacam belajar bikin template blog pakai html jaman dulu, try and error lebih banyak terjadi hanya untuk dapatkan satu saja try and success. Dan masih banyak awalnya hingga akhirnya mulai ada yang minta dan membeli. Wah, senang itu pasti. Desk-organizer dihargai 10K padahal bahannya cuma dari bekas minuman kotak begitu. Sampai kemudian Rikyn Radja memesan tempat tissu berbahan koran, potongan kardus, dan kertas kado (kalau yang ini kudu beli). Nah... Orderannya menumpuk. Tapi karena saya bikinnya pakai cinta *tsah* jadi kudu antri. 

Sebulanan saya konsisten sama pesanan orang-orang, mencoba berinovasi, mengeluarkan Rupiah untuk modal membeli lagi amunisi seperti lem, isian cutter, gunting, dan lain sebagainya, juga untuk membeli bahan yang tidak bisa dipulung. Saya konsisten untuk amnesia sementara waktu pada game kesayangan. Menggunakan media sosial sebagai pasar utama untuk promosi, tidak duduk di lapak, tidak pula door to door marketing, kenyataan yang saya terima bahwa dalam sebulan keuntungan bersih mencapai Rp 1,5Jt. Kalian tidak percaya? Saya juga. Mana bisa kerja tidak ngoyo dan malas-malasan menganyam begitu bisa mendatangkan Rupiah yang lumayan banyak. Saya sampai mengelus-elus dompet mini tempat pemisahan Rupiah daur ulang dengan Rupiah kerja kantoran itu. Keponakan saya, yang kini sudah ahli memelintir, sampai ngakak guling-guling melihat tingkah Encim-nya yang macam singa membujuk rusa begitu.

Saya memang pemulung. Pemulung Rupiah. Selama kita bisa memanfaatkan apa yang ada ditambah kreatifitas, Rupiah bisa didapat. Barang bekas selalu menjadi sesuatu yang mewah bagi saya. Jadi, semisal ada yang bawain saya koran, nah yang saya lihat bukan koran melainkan keranjang cantik he he he.

Selain apa yang sudah saya lakukan di atas, mendaur ulang dan mendulang Rupiah, masih banyak kelakuan lainnya yang bisa ditiru. Tapi akan saya ceritakan di lain postingan. Tentu masih berkaitan dengan kreatifitas; bukan lagi tentang bagaimana memanfaatkan koran menjadi keranjang, tapi bagaimana jam dinding bekas bisa mempercantik kamar mandi pribadi kita :D 

Semoga post ini bermanfaat.


Salam pemulung!
Advertisement

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search