Korupsi Karena Miskin

Gambar diambil dari sini.


Saya tergelitik membaca berita dari beberapa media massa online seperti JawaPos.Com pada Kamis, 1 Februari 2018 berjudul "Zumi Zola Jadi Tersangka, Ketum PAN Singgung Gaji Kepala Daerah" (editor: Dimas Ryandi). Kemudian Jurnalpolitik.Id melansir berita berjudul "Zulkifli Bantah Pernyataan Soal Kecilnya Gaji Gubernur dalam Kasus Zumi Zola". Yang jelas di dalam berita terakhir pun masih tetap ada tulisan tentang pernyataan; saat ini gaji kepala daerah sangat kecil, hanya sebesar Rp 6,6 juta. Padahal untuk maju saja membutuhkan modal yang sangat besar.

"Jadi kalau seperti itu terus habis orang-orang baik di tanah air."

Are you serious, Mr. Zulkifli Hasan?

Menjadi kepala daerah adalah passion. Ada misi yang ingin dia lakukan demi kebaikan daerahnya sendiri, tempat dia lahir, besar, kawin, punya anak, dan seterusnya. Misalnya, dia gemas karena akses jalanan antar desa di daerahnya belum mulus, maka ketika menjadi kepala daerah, dia tentu berusaha agar jalanan antar desa di daerah kekuasaannya menjadi mulus. Atau, dia pengen di daerahnya ada banyak taman baca, maka ketika menjadi kepala daerah, akan dia bangun banyak taman baca di titik-titik strategis untuk menyokong minat baca masyarakat. Bukankah kita semua punya keinginan yang sama agar masyarakat kita terbiasa dengan budaya membaca?

Menjadi kepala daerah memang butuh modal, tapi modal itu tidak dikembalikan (padanya) melalui jalur korupsi. Kalau pemikirannya soal balik modal itu, daripada modal itu dipakai buat pencalonan diri sebagai kepala daerah, lebih baik buat berbisnis saja. Modal, Insha Allah, kembali dengan cara halal (keuntungan penjualan), ketimbang korupsi. Dengan perhitungan bisnis yang matang dan akurat, keuntungan pasti digapai. Pedagang kecil saja tahu bahwa membeli tomat langsung di petani jauh lebih murah untuk dijual dengan harga sesuai pasar. Laba diperoleh, bukan riba.

Masa sih, Bapak bisa berpikir menjadi kepala daerah karena mengeluarkan modal, jadi ya gitu deh, terjadilah korupsi.

Saya hanya bisa mengelus kepalanya Thika.

Gaji kepala daerah hanya ... HANYA ... 6,6 juta Rupiah. Masa iya gaji 6,6 juta dibilang kecil, apalagi jika itu gaji bersih yang belum ditambah tunjangan ini-itu. Perlu Bapak ketahui, banyak orang yang gajinya hanya 2 juta Rupiah tapi bisa hidup bahkan menyekolahkan anak sampai sarjana meskipun harus berhutang di bank, yang penting potongan jelas dan hutang bisa lunas. Banyak orang yang gajinya hanya 1,8 juta Rupiah tapi dengan hasil menabung sedikit demi sedikit mereka bisa membuka usaha sampingan yang menguntungkan. Dengan gaji 6,6 juta Rupiah, bukankah kepala daerah bisa menyisihkan sedikit untuk menjalankan bisnis? Bisnis bisa dijalankan oleh keluarganya, atau tetangganya yang kurang mampu dengan syarat keuntungan dibagi 70 - 30. Masih bisa makan nasi sehari 3 kali, masih bisa beli bensin, masih bisa sedekah dan infaq. Orang yang bisnis konter pulsa saja bisa menggaji 6 karyawan, masa seorang kepala daerah dengan gaji 6,6 juta tidak bisa melakukannya, dan memilih untuk korupsi. Emang nasi yang dimakan itu nasi berlian?

Apakah orang korupsi itu karena dia miskin? Tidak. Dia korupsi karena TAMAK. Karena TAMAK maka TAMAT pula riwayatnya. Yang masuk teve karena korupsi adalah pejabat yang punya mobil lebih dari satu. Pernahkah orang yang cuma naik sepeda pinjaman korupsi milyaran Rupiah? Kalau pernah, wow sekali *ngikik*. Yang masuk teve karena korupsi adalah mereka yang bisa makan di restoran dimana segelas kopi dihargai ratusan ribu. Pernahkah orang yang ngopi-ngopi di warkop korupsi milyaran Rupiah? Korupsi bukan karena dia miskin, apalagi karena gajinya hanya ... HANYA ... 6,6 juta.

Kalau dipikir 6,6 juta itu sedikit, sedekahkan. Karena dengan sedekah, Allah SWT akan membalas lebih banyak lagi yang telah dikeluarkan.

Orang baik tidak akan tega korupsi. Kalau Bapak bilang, "Jadi kalau seperti itu terus habis orang-orang baik di tanah air." Negeri ini memang lucu sekali. Kembali pada passion-nya dia sebagai kepala daerah. Jadi kepala daerah murni atau jadi kepala daerah bisnis. Orang baik tidak akan tega mengembat sesuatu yang bukan haknya. Banyak orang yang cuma mark-up dana tertentu yang sebatas 50 ribu Rupiah saja sudah tidak bisa tidur seminggu lebih dan akhirnya memilih untuk bersedekah, membersihkan hidupnya.

Dan kita pun jadi bingung dengan defenisi orang miskin. Orang miskin itu; apakah mereka yang naik mobil dan makan 3 kali sehari, atau mereka yang berpanas-panasan di pasar berharap dagangan tomatnya laku, sementara di rumah tak ada beras sebutir pun? Coba teman-teman jawab, mungkin saya yang salah berpikir he he he.

Salam tomat :p

Posting Komentar

Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak