• Start Your Day With Personal Story

    Kezimara, Surganya Night View


    Foto milik Anto Ngga'a, cowok yang ada di foto ini. Hehehe.

    Suatu kali, saya pergi ke Kampung Kolibari bersama Martozzo Hann, Yoyok Purnomo, dan Gibran. Sekalian kunjungi calon mertua, kami berencana membuat video bekal Zigieo dan materi siaran Backpacker. Saat sedang bersantai di rumah Kakak Is (Kakaknya Sampeth), Tozzo mengajak kami mendaki Bukit Kezimara. Awalnya saya menolak, tapi demi kalimat "Kapan lagi, Ncim?" akhirnya ajakan itu saya iya-kan. Medannya sulit, hanya ada jalan tikus sempit, dan beberapa titik sangat licin karena bebatuan kecil bercampur pasir. Berkali-kai sepatu kemasukan tanah, berjuang menggapai tumbuhan yang ada agar tidak jatuh, lalu iri hati melihat puluhan bocah pengawal kami justru berlari-lari ke puncak Kezimara. Mereka BERLARI, bung! Di belakang saya dua ponakan, Dinda dan Putri, berusaha mengawal saya secara pribadi. Private guard. Saya berharap tidak jatuh saja, kalau saya jatuh, meskipun ditahan mereka, kami bertiga pasti berguling berjamaah karena bobot kami 1 berbanding 1000. Mereka pasti penyet. Ternyata Tozzo dan Yoyok pun menyerah dengan medan yang begitu sulit. Tapi itu dulu, saat Kezimara belum seramai sekarang. Videonya dapat kalian lihat di Youtube. Cari saja Zigizeo Backpacker.


    ***

    Saya pernah menulis tentang sebuah kampung bernama Kolibari namun saya belum pernah menulis tentang Wilayah Kampung Adat Kolibari (WKAK). WKAK, yang mengikutsertakan nama Kolibari bersamanya, sebenarnya membawahi dua wilayah adat. Yang pertama Kampung Kolibari (it self). Yang kedua Kampung Aeba'i. Secara administrasi pemerintahan, WKAK merupakan bagian dari Kelurahan Roworena Barat, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende. Kampung Kolibari terletak di Bukit Kolibari sedangkan Kampung Aeba'i terletak di dekat daerah pantai bernama Ndao. Letak Kampung Kolibari sendiri tidak jauh dari pusat Kota Ende. Hanya memakan waktu sekitar 10 sampai 15 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor. Namun, karena jalannya menanjak dan berliku (sesuai lokasinya berada di puncak Bukit Kolibari), bagi yang baru pertama kali pergi ke sana, perjalanan akan terasa sangat lama dan melelahkan selelah perasaan Hayati.

    Yang ingin saya ceritakan di sini adalah tentang sebuah bukit yang berdiri di sebelah Selatan Bukit Kolibari. Namanya Bukit Kezimara. Mereka tetanggaan. Rapat. Bedanya, Kolibari dihuni oleh masyarakat adatnya, sedangkan Kezimara dihuni oleh tanaman umur panjang milik masyarakat Kolibari.

    Masalah nama Kezimara ini pernah dipertentangkan, mungkin sampai saat ini. Kenapa banyak yang menyebut Kelimara (lafaz Suku Lio) bukan Kezimara (lafaz Suku Ende)? Bukankah letak bukit tersebut jelas-jelas berada di wilayah Suku Ende? Yang bukan Orang Ende pasti bingung dengan tulisan ini. Perlu diketahui bahwa Kabupaten Ende dihuni oleh dua suku besar. Yang pertama Suku Lio, yang terletak di daerah pegunungan, lebih ke arah Barat Kabupaten Ende. Yang kedua Suku Ende, yang terletak di daerah pesisir, lebih ke arah Timur. Kedua suku ini punya bahasa yang berbeda yaitu bahasa Lio dan bahasa Ende. Bahasa yang berbeda ini tidak benar-benar beda karena beberapa suku katanya sama namun berbeda lafaz. Misalnya untuk kata 'anjing'. Orang Lio menyebutnya 'lako'. Orang Ende menyebutnya 'zako'. Sama juga dengan pakaian adat perempuan Kabupaten Ende. Orang Lio menyebutnya Lawo Lambu. Orang Ende menyebutnya Zawo Zambu.

    Kembali pada nama, saya pikir ini hanya perkara lafaz antara Suku Ende dan Suku Lio saja. Awal mula ke sana, saya mendengar Sampeth (oh iyess, Kakak Pacar) menyebut Kelimara. Semakin ke sini, mungkin karena adanya rasa memiliki yang begitu dalam dari Suku Ende, maka nama Kezimara lah yang terus-menerus didengungkan. Bagi saya, yang penting adalah bukitnya tetap bukit yang sama. Soal lafaz, namanya juga lafaz.

    Kezimara dilirik oleh para pegiat paragliding sejak Om John Bunyu menemukan kenyataan manis bahwa angin di bukit tersebut sangat baik untuk paragliding. Maka sejak beberapa tahun lalu (tahun 2015/2016, saya kurang tahu pasti tahunnya) sudah dilakukan inisiasi dengan masyarakat Kolibari tentang rencana menjadikan puncak Kezimara sebagai titik hulu paragliding. Rencana tersebut berlanjut pada tahun 2017 ketika Om John kembali datang bersama sahabatnya, Pak Jaki Para, untuk meninjau ulang lokasi (duh, bahasanya). Setelah berembug dan mencapai mufakat, antara Om John dengan masyarakat Kolibari termasuk masyarakat adatnya, maka resmilah Kezimara menjadi titik hulu paragliding pertama di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

    Pembukaan/pembebasan lahan tidak mudah. Proses yang harus dikerjakan oleh masyarakat Kolibari cukup sulit. Mereka harus menebas semua tanaman yang tumbuh di puncak Kezimara, membersihkan lahannya, memperbaiki akses jalan dari Kampung Kolibari menuju Bukit Kezimara, lantas membuat tangga tanah agar memudahkan orang yang hendak mendaki ke puncak Kezimara (dulu waktu kami mendaki Kezimara hanya ada jalan tikus sempit), dan lain sebagainya. Bupati Ende, Bapak Marsel Petu, pernah mengunjungi Kolibari dan mendaki Kezimara. Terpesona pada pemadangannya? Tentu! Dari puncak Bukit Kezimara kita dapat menyaksikan lanskap Kota Ende dengan sangat leluasa; Selatan, Utara, Barat! Bahkan Pulau Koa saja kelihatan.

    Saat ini, paragliding memang belum aktif di Bukit Kezimara. Namun, foto demi foto dari puncak Bukit Kezimara (foto pagi hari saat matahari terbit, siang hari, sore hari saat matahari terbenam, dan foto malam hari dengan latar belakang kerlap-kerlip Kota Ende) menjadi magnet yang sangat kuat menarik masyarakat Kabupaten Ende pergi ke sana. It's so instagramable. Pengunjung yang membludak tentu harus diimbangi dengan perbaikan ini-itu, termasuk tangga tanah yang harus merelakan dirinya diinjak ratusan pengunjung per hari. Masyarakat, khususnya anak muda, harus lebih giat memperbaiki tangga tanah yang rusak, pun akses jalan dari Kampung Kolibari menuju Bukit Kezimara. Vice versa. Dan memasang lampu di beberapa titik agar pengunjung malam hari tidak terantuk. Oleh karena itu, masyarakat memberlakukan tarif yaitu Rp 2.000 untuk parkiran dan Rp 2.000 untuk biaya mendaki ke Bukit Kezimara. Saya pikir, biaya segitu terlalu kecil untuk hasil foto yang spektakuler. Tapi ternyata masih ada juga yang protes. Kok protes? Sudah tahu belum kalau lokasi itu bukan buat orang foto-foto dan upload di media sosial. Itu titik hulu paragliding! Tangga tanah yang dibangun untuk para penerbang paragliding sudah dipakai oleh pengunjung yang cuma pengen foto-foto di sana, wajar lah kalau masyarakat memberlakukan tarif. Kalau tidak mau ada tarif, jangan pergi ke Kezimara, pergi ke kafe, bayar makan-minum Rp 100.000an, lalu foto-foto. Beres kan?

    Kezimara, surganya night view. Setiap hari, apalagi malam, banyak kendaraan lalu-lalang untuk pergi ke Kezimara. Mereka memarkir sepeda motor di Kampung Kolibari, lantas memulai perjalanan menuju Bukit Kezimara. Bagi saya, sebenarnya bukan hanya Kezimara saja yang menjanjikan pemandangan spektakuler. Kolibari pun merupakan surganya pemandangan alam apalagi lanskap Kota Ende. Saya pernah diajak Sampeth ke Kolibari untuk merayakan tahun baru. Kalian tahu? Dari Kolibari saja, saya melihat Kota Ende bak lautan teratai api. Dari Kolibari saya menonton pesta kembang api yang semarak di Kota Ende. So awesome! Jangankan di bukit pandang Kolibari, di belakang dapur rumah camer saja saya bisa duduk-duduk santai sambil menikmati lanskap Kota Ende (siang maupun malam). Ibarat setiap hari piknik! Kalau saya bilang begitu, Kakak Asfur hanya bisa tertawa, karena bagi mereka pemandangan begitu sih biasa. Setiap hari juga mereka lihat.

    Hari Rabu kemarin, tanggal 28 Maret 2018, saya pergi ke Kolibari bersama Flory, Jiel, Akiem, Effie, dan Thika. Rencananya bareng anak-anaknya Kakak Yudith, tapi mereka membatalkan rencana. Pukul 20.00 Wita, berangkatlah kami menuju Kampung Kolibari. Tiba di sana, kami melihat puluhan sepeda motor diparkir di depan rumah Sampeth sampai ke arah mushola. Masih menunggu Sampeth yang latihan kor (mengiringi penyanyi kor dengan gitar, karena Sampeth muslim), kami disuguhi pisang goreng dan kopi yang maknyus! Belum habis pisang goreng dan kopi, Kakak Dahlan sudah menunjuk kelapa muda yang siap disikat. Amboy, mampuslah perut awak. Setelah Sampeth kembali dari latihan kor, berangkatlah kami menuju Kezimara. Jalan menuju Kezimara lumayan baik dibanding pertama kali saya ke sana, ada lampu-lampu dipasang, beberapa bale-bale untuk pengunjung yang kecapaian (kurang baik apa coba masyarakat Kolibari?). Tangga-tangga tanah mulai kelihatan saat kami tiba di kaki Bukit Kezimara. Satu per satu menapakinya, nafas saya semakin ngos-ngosan. Ada apa ini? Ah, kawan, menyesal sih, tapi saya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Saya sedang diet karbo dan gula, maka tubuh saya memaksa lemak terbakar lebih banyak dan saya mencapai batas letih. Pada akhirnya Sampeth kembali menemani saya turun. Sempat terkapar di batang pohon kelapa, dibawain air sama bocah dari pinggir Kampung Kolibari, sebelum kembali mendaki ke Kampung Kolibari. Haha. Memalukan.

    Di pinggir kampung, ada dua rumah milik kakaknya Sampeth. Kakak Ibrahim dan Daud. Istri Kakak Ibrahim mengajak kami istirahat. Aminah, istri Kakak Ibrahim, berinisiatif mengambil kelapa muda yang tadi ditunjuk Kakak Dahlan. Duh, Amak! Lebih cukup terbayarkan dengan kesegaran kelapa muda hahaha. Dan ternyata dari depan rumah dua kakaknya Sampeth ini, kami masih bisa melihat lanskap Kota Ende. Saat malam hari, kerlap-kerlip lampunya mempesona.

    Minggu kemarin, bertepatan dengan Hari Raya Paskah, 1 April 2018, saya kembali ke sana bersama Mila Wolo cs, Poppy Pelupessy, dan Thika Pharmantara. Saya dan Thika menunggu mereka di rumah Kak Ibrahim dan Aminah, mereka mendaki ke puncak Kezimara. Ya, mereka puas. Lelah mendaki ke puncak Kezimara terbayarkan dengan pemandangan super kece. Mereka menunggu hingga sunset-an, lantas kembali turun. Oleh tuan rumah kami disuguhi jagung goreng, ngeta (urap), dan sambal yang maknyus, serta air kelapa muda. Cihuy sekali. Sampai gelap pun masih berjubel orang mengunjungi Bukit Kezimara.

    Bagi kalian yang hendak pergi ke Bukit Kezimara baik pagi, siang, sore, malam, maupun berniat camping di sana, jangan lupa untuk bertanya informasi seputar Kezimara pada penduduk setempat. Bersikaplah yang sopan. Bayar biaya parkir dan biaya masuk pada petugas yang dipilih. Biaya itu dipakai untuk perbaikan tangga, akses jalan, penerangan, dan sumbangan untuk kegiatan sosial kok, bukan untuk masyarakat Kolibari. Kalau bisa, belilah air minum atau jajanan yang dijual oleh masyarakat Kolibari, karena pendapatan mereka dari jualan itu, bukan dari biaya parkir dan biaya masuk. Jangan bertindak yang aneh-aneh apalagi sampai membahayakan diri kalian sendiri (ikuti panduan/petunjuk dari pemuda yang mengantar kalian). Dan, malam memang selalu gelap, jangan dikira kalian bisa memanfaatkan suasana yang gelap untuk memuaskan birahi; bermoral lah sedikit.

    Saya harap, suatu saat nanti akan bisa kembali ke Kezimara. Tapi untuk sekarang, main-main di Kolibari saja lah, sekalian ngobras bareng camer. Haha.


    Cheers!

    4 komentar:

    1. Jangan capekh ajak jenipers yah encim...meski jawaban kami next time muluu...๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

      ReplyDelete
      Replies
      1. Kerennnnnnnn abessss๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰

        Delete
      2. Kerennnnnnnn abessss๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰

        Delete
      3. Tak akan capeeeekkk hahahah tenang saja bu guru, Insha Allah Jennipers ke sana e :*
        Btw bu guru eeee ayo ngeblog, bagi tulisan lewat blog. Saya berediak ajak Jennipers untuk pelatihan blog di rumah saya. Yang penting ada paket data dan laptop, kita hajar :D

        Delete

     

    2teh

    Tuteh Pharmantara
    Email: tuteh.pharmantara@gmail.com
    Twitter & Foap: @tuteh
    FB: Tuteh Pharmantara
    WA: 085239014948

    Internet Sehat

    Labels

    Backpacker (39) Blogger (18) BlogPacker (17) Daily (35) Ende (73) Inspirasi (74) Jalan-jalan (23) Kaki Kereta (15) Komunitas (6) NTT (35) Quotes (6) Thought (26) Traveling (46) Yellow (2)