DEBM

Salah satu menu DEBM saya, puding cokelat santan kara no sugar!


Semua orang pasti ingin sehat. Semua orang pasti ingin jarum timbangannya menunjuk pada angka yang diinginkan, sesuai dengan tinggi badan. Tapi perlu diingat, sehat tidak selalu sama dengan berat tubuh. Belum tentu semua yang gemuk itu penyakitan, belum tentu semua yang langsing itu sehat. Demikian pula sebaliknya. Intinya, harus memeriksa kesehatan pada mereka yang berkompeten seperti dokter (atau bidan dan perawat jika yang ingin diperiksa sekadar tensi darah, kadar gula, kadar kolesterol, yang bisa menggunakan alat GCU).

Sudah sejak lama, saya tidak menghitung tanggal pastinya, saya mengidap diabetes. Angka yang tertera pada alat ukur diabetes selalu berkisar antara 300 sampai 400. Angka tertinggi kadar gula dalam darah saya mencapai 454. Hal itu tentu tidak mudah untuk saya emban (wah, emban) hehehe. Kaki saya mengalami kebas berlebihan hingga pernah luka tanpa saya sadari. Ujung jari-jari tangan saya pun suka cenut-cenut. Kadang saya mengantuk dan pusing tanpa kenal waktu. Kalau luka, memang sembuh tapi butuh waktu yang lama dan bekas hitamnya tidak bisa hilang. Orang-orang di Klinik Uniflor bilang wajah saya sering sembab, padahal waktu tidur saya lebih dari 6 jam.

Saya pernah olahraga ketat. Setiap selesai Shalat Maghrib jalan kaki keliling Kota Ende. Lumayan, kadar gula dalam darah saya berkurang, bonusnya adalah bobot tubuh pun turut berkurang. Hanya saja, dikarenakan kondisi pekerjaan dan kesibukan ini-itu menyebabkan saya tidak lagi meneruskan olahraga tersebut. Jelas, itu salah, tapi saya pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi *pasrah pada keadaan hehe*

Bermacam diet sudah saya lakukan. Pernah diet nasi, tapi tetap makan singkong dan meminum minuman manis seperti kopi susu dan teh (pakai gula). Diet itu memang lumayan berhasil, tapi tidak terlalu bagus. Sampai kemudian saya membaca di media sosial Facebook tentang Diet Enak Bahagia Menyenangkan (DEBM). DEBM menerapkan penghilangan karbo dan gula dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Tapi makanan yang boleh dikonsumsi kok ya ... enak-enak *ngikik* seperti telur, keju, alpukat, santan Kara (Sun Kara), agar-agar plain, protein hewani (daging), sayuran. Pertama melihatnya saya langsung kepikiran soal kadar gula dalam darah. Jika saya tidak mengonsumsi karbo dan gula, maka bisa berkurang lah kadar gula dalam darah saya.

Rabu (7 Februari 2018) saya menjalankan DEBM. Saya langsung mulai dengan yang paling ketat; hanya mengonsumsi telur, alpukat, keju, santan kara, diselingi setiap hari saat sarapan dan makan malam. Sedangkan makan siangnya saya tetap makan sayur dan ikan atau daging. Kopi susu yang saya minum setiap pagi dan teh setiap sore masih saya minum tapi tanpa gula sama sekali (even I don't use corn sugar). Saya ingin melihat apakah kadar gula dalam darah saya dapat berkurang melalui DEBM ini. Rasanya memang berat. Kadang kepala saya pusing. Kadang perut merintih (hahaha, itu pasti). Kadang keinginan untuk selingkuh makanan juga besar. Oia, kalau hari Minggu saya boleh makan apa saja yang saya mau, tapi toh sama saja, Minggu kemarin saya hanya makan pentol goreng dan menu DEBM. Godaan nasi terlihat seperti laler ijo saja. Oia, omnivora di hari Minggu ini bukan dari DEBM, tapi dari diet lain yang saya padukan hahaha.

Selasa (13 Februari 2018), kurang satu hari genap satu minggu DEBM, saya mengecek kadar gula di Klinik Uniflor. Betapa terkejutnya orang di klinik ketika melihat hasilnya.

From 400 to 190 itu sangat luar biasa!

Dalam seminggu kadar gula dalam darah saya berkurang segitu banyaknya! Erna, petugas klinik, sampai terpesona melihat alat GCU. Saya dan Thika tertawa senang. Artinya DEBM yang dijalankan dengan tulus, tanpa selingkuh sama mantan (manakan, pola makan lama), pasti berhasil. Melihat polanya, maka pasti kadar gula dalam darah turun. Tinggal bagaimana nanti setelah normal, kadar gula dalam darahnya dipertahankan. Itu yang paling utama bagi saya mengikuti diet ini. Urusan kelak bobot pun ikut berkurang, itu mah bonus. Saya jadi berpikir tentang racun pagi hari yang masuk dalam tubuh saya. Maaf, kalau saya menyebutnya racun, itu untuk diri pribadi. Begini, coba dipikir, pepagi hari sudah makan nasi + kopi susu manis. Belum jam 12 siang sudah makan kue-kue manis, kadang bakso, kadang roti. Astajim! Begitu teganya saya pada diri sendiri. Pantes angka diabetesnya terus meningkat. Gimana bisa berkurang kalau pola makan saja masih hiperbola begitu.

Beberapa teman bertanya tentang kadar gula dalam darah yang berkurang sebanyak 210 angka itu. Saya bercerita tentang dietnya. Ada yang langsung mengikuti, ada pula yang merasa berat karena tidak mengonsumsi karbohidrat yang merupakan pasangan sehari-hari saat makan pagi, siang, malam. Saya hanya bisa bilang ke mereka, semua itu kembali pada diri masing-masing. Sejauh mana ingin mengurangi bobot tubuh dan/atau kadar gula dalam darah. Sekuat apa menahan godaan makanan yang selama ini sangat melekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Yang patut diingat, HASIL TIDAK PERNAH MENGINGKARI USAHA :D

Bagi teman-teman yang kepo, silahkan search grup atau laman Diet Enak Bahagia Menyenangkan di Facebook. Silahkan dibaca dulu semua postingan dan komentar. Komentar ini perlu dibaca karena rata-rata tips, trik, anjuran, nasihat, dan lain sebagainya dapat kita temukan di komentar. Jangan sungkan untuk bergabung dan/atau bertanya, mereka pasti akan menjawab dengan senang hati. Tapi yang terutama, dibaca dulu semuanya agar tahu seperti apakah DEBM itu. Be smart, please, sebelum bilang, "What? Diet kok ngemil keju? Diet kok boleh makan daging, telur, alpukat sepuas-puasnya, pokoknya jangan sampai lapar?"

Hehehe.

Bagaimana kalau saya bilang, diet ini juga, Insha Allah atas ridho Allah, sudah bikin banyak perempuan kemudian hamil? Eh, maksudnya, hamilnya sih atas peran suami, tapi dietnya membantu sangat :D

Untuk teman-teman yang sudah mulai DEBM, semangat!


Salam DEBM.

0 komentar