Pasola, The Great Traditional War

I was here.
Cultural event: Pasola.
Lamboya, West Sumba.
12 Feb 2015.
How about you?
#LatePost

Okay, don't look at my look. Waktu itu saya memang belum berhijab, but it's okay lah. Ternyata saya memang sama sekali belum bercerita tentang event Pasola yang sempat saya ikuti waktu bertugas di tanah Humba (Sumba) ... Februari 2015. Aaaah, sudah lewat setahun! Bahkan post di blog travel ini pun cuma seupriiiiit. Meh. 

A VERY LATE POST!

Februari 2015 saya ditugaskan ke Pulau Sumba, tepatnya di Kabupaten Sumba Barat dan Kabupaten Sumba Tengah, untuk mempromosikan Universitas Flores. dari Ende, tanggal 8 Februari 2015, bersama rombongan tiba di Tambolaka di Kabupaten Sumba Barat Daya (untuk mudahnya selanjutnya saya tulis SBD). Sempat makan siang dulu di Rumah Budaya Sumba (sebuah tempat keren yang dikelola oleh Pater Robert: museum budaya, tempat menginap, restoran, pemandangan alam). Setelah itu, rombongan Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Timur pun berangakat, meninggalkan tim Kabupaten SBD yaitu Pak John Pande dan Pak Mukhlis, yang akan menjalankan tugas promosi di tempat ini.

Sepanjang jalan dari Kabupaten SBD, tak henti-hentinya saya dibuat kagum pada pengguna jalan yang tak hanya kendaraan bermotor saja melainkan juga kendaraan berkaki empat (kuda). Selain itu, pakaian para lelakinya pun masih berbau tradisional: kain tenun Sumba yang diikat berbentuk popok (tapi masih sangat sopan), dan parang bersarung yang menggantung di pinggang kanan. Berapa jam perjalanan waktu itu ... hmmm ... sekitar satu jam-an, tibalah tim kedua yaitu tim Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Tengah di Kota Waikabubak yang lumayan dingin karena cuaca memang sedang menunjukkan gejala-gejala flu begitu. Dan sore itu kami disuguhkan kopi panas ... duw, tak ada yang lebih nikmat lagi deh ... soalnya tidak ada pilihan lain lagi haha. Oia, tim Kabupaten Sumba Timur melanjutkan perjalanan: Pak Ius dan Pak Umbu.

Singkat cerita tim dua kabupaten (bagian tengah Pulau Sumba) ini, saya dan Pak As, mulai menjalankan tugas mempromosikan Universitas Flores. Namun pada tanggal 12 Februari 2015 kami meliburkan diri. Eits, bukan salah kami donkkk ... Pulau Sumba punya peraturan kalender tersendiri. Setiap event Pasola berlangsung, semua kegiatan harus dihentikan baik itu perkantoran dan sekolah-sekolah. Kalau kios dan warung harus tetap dibuka agar perut kami tidak kosong haha. Maka, sepagi buta berangkatlah saya dan Pak As menuju Kecamatan Lamboya yang jarak tempuhnya sekitar 1,5 jam dari Kota Waikabubak. Waktu itu kami tidak mengendarai mobil sewaan melainkan sepeda motor milik saudara sepupunya Pak As. Yipie.

Tiba di lokasi, Lapangan Kecamatan Lamboya, masyarakat sudah padat-karya, berjejalan, baik itu penonton, aparat pengamanan, sampai dengan para penjaja makanan dan minuman. Saya dan Pak As buru-buru pergi ke pinggir lapangan dengan harapan mendapat tempat terbaik untuk menonton tapi ternyata kami harus menyingkir mengingat tempat itu terlalu strategis untuk orang biasa seperti kami ... haha ... rombongan orang penting mau lewat maksudnya jadi kami harus pindah. Untungnya, dari tempat strategis pinggir lapangan yang tak seberapa lama kami kuasai tersebut, saya dapat berpose bersama salah seorang penunggang kuda yang bakal ikutan Pasola. Terimakasih Bapak, kudanya keren hehe.

Cuaca memang sangat terik dan kami terpaksa harus mencari bayangan penonton lain agar tidak sampai kepanasan xixixix. Walhasil setelah pembukaan dengan bahasa adat, dan sambutan oleh pejabat yang entah siapa namanya (saya lupa), Pasola pun dimulai. Lapangan besar di Kecamatan Lamboya tersebut dikelilingi oleh para penonton sedangkan arena dipenuhi oleh kelompok-kelompok orang berkuda yang menandakan desa masing-masing. Misalnya kelompok sana; Desa A, kelompok sini; desa B, dan seterusnya. Kelompok kecil tersebut membentuk kelompok besar yang berhadapan dengan kelompok besar lainnya (kelompok besar lainnya ini juga terdiri dari kelompok-kelompok kecil .. ya laaaaah :p). Nah, perangpun dimulai. Saya sebut ini perang tradisional yang hebat karena banyak sekali para pelempar tombak (dulunya tombak ini mematikan namun sekarang tombak ini telah diturunkan kelas kekejamannya, jadi ... kalau kena paling luka ringan) yang jitu alias lemparannya tepat sasaran padahal itu posisinya mereka berada di atas kuda yang sedang berlari kencang. Hebat kan?

Sebenarnya event Pasola ini sudah dimulai dari hari sebelumnya, dimana penduduk turun ke pantai untuk menangkap nyale. Untuk cerita lengkap tentang tata cara dan bagaimana Pasola itu, baca saja di sini: Wikipedia.

Menonton event Pasola membutuhkan ketabahan khusus karena kita harus rela berdesak-desakan dengan penonton lain, belum lagi semburan cahaya matahari yang membakar kulit dimana ubun-ubun bisa saja mengeluarkan asap, siksaan hidung akibat bermacam aroma. Ya, harus tabah huehehe. Tak lama juga sih kami menonton Pasola, lantas pergi ke jejeran pedagang makanan dan minuman dengan tujuan mencari minuman dingin (hausnya level galaksi), baru deh cari camilan halal (ya sedikit was-was tak apa kan?). Bagi saya, waktu istirahat ini sekalian cuci mata lah ... banyak cowok bening. #Eh :D

Menjelang makan siang saya dan Pak As kembali pulang ke Kota Waikabubak. Tapi sebelumnya kami sempatkan mampir di sebuah mata air yang konon ada belut raksasanya (ukurannya besar-tidak normal). Sayang sekali waktu kami datang si belut tidak menampakkan diri (soalnya kami sendiri juga tidak membawa telur sebagai pancingan untuk si belut) hehe. Mata air tersebut menjadi pusat kebutuhan air baik itu untuk mandi, mencuci, maupun untuk dikonsumsi.

Jika Anda hendak menyaksikan Pasola, dari dekat seperti yang kami lakukan, datanglah ke tanah Sumba. Pasola biasanya dilaksanakan sekitar Februari - Maret (lihat tanggalnya). Biasanya ada 3 kali Pasola dilaksanakan dengan rentang waktu sekitar satu sampai dua minggu. Namun, untuk informasi lebih lengkap dan jelas, sebaiknya Anda menghubungi nomor telepon Dinas Pariwisata setempat. Bisa Dinas Pariwisata dari ketiga kabupaten yaitu Kabupaten SBD, Kabupaten Sumba Barat, dan Kabupaten Sumba Timur. Masih di Indonesia ini ... ayo datang ke Pulau Sumba :)

Wassalam.

0 comments:

Post a Comment

 

2read






Tuteh's bookshelf: read


Negeri 5 MenaraSamanMadreTitaniumSupernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang JatuhThe Lost Symbol

More of Tuteh's books »



kontraktor pameranNamira Consulting Jasa Psikotes Tes Psikologi

2teh

Ende - Flores | tuteh.pharmantara@gmail.com |
ym: tutehpharmantara
Twitter : @tuteh | FB : Tuteh Pharmantara

Rolling Fairy yang suka nyebarin VIRUS BLOG. Senangnya JALAN-JALAN ke mana saja, apalagi dibayar :p Masih suka MOTRET ASAL-ASALAN dan pastinya teteup suka DIPOTRET!


flobamorataBlogFam CommunityInternet Sehat Jump To Top