Sebuah Cerita

1 April 2013. Dini hari. Menunggu apakah akan ada gempa? Ternyata tidak ada. Tidak bisa tidur, banyak alasan. Salah satunya wajah bocah yang ngemil mi instan. Kelebihan MSG? Pasti. Tapi itu yang mereka punya, simpanan orangtua dari hasil pembagian jatah mie oleh Ketua Posko atau Kepala Desa atau Koordinator Pengungsi Pulau Palu'e di titik yang bersangkutan. Mereka korban meletusnya Gunung #Rokatenda.

Tim 2

Jumat, 29 Maret 2013, bersama teman-teman Flobamora Community : Fauwzya Dean, SKJ, Irwan, juga dua teman dari KPA Laskar Ambruk : Vicky Mohammed dan Ichan, berangkatlah Tim Relawan Flobamora Community menuju Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende. Jaraknya dari Kota Ende adalah 80 kilometer. Kami berangkat dari Kota Ende sekitar pukul 02.00 PM menunggu teman-teman yang Katolik pulang Jalan Salib dan teman-teman yang Muslim selesai Sholat Jumat. Jalanannya tidak mudah, teman. Berkelok-kelok dan berlubang-lubang, tapi kami menikmatinya dengan penuh. Tiba di Sokoria, hujan menghantam kami tanpa aba-aba. Basah? Pasti. Gara-gara itu rencana untuk tembus ke Maumere untuk mendata satu atau dua titik pengungsi di sana pun batal. Kami memang sukarela tapi bila kami sakit siapa lagi?

Kami terbagi dalam 3 tim. Tim 1 : Fauwzya dan Irwan membawa bantuan #1MugBeras ke Posko Keliwumbu - Uludala. Tim 2 : Vicky dan Ichan menuju Ropa. Tim 3 : saya dan SKJ menuju Desa Mausambi. Ternyata Tim 1 dan Tim 2 pun terpaksa bergabung dengan Tim 3 karena semua pengungsi di Ropa telah disatukan di Posko Keliwumbu - Uludala dan sore itu mereka semua sedang mengikuti Misa Jumat Agung. Baiklah, kami berkumpul di Desa Mausambi. Di desa ini saya merekam begitu banyak obrolan dengan para pengungsi hingga ke dapur umumnya yang miris sekali. But life must go on in every situation ... they must survive! So do us.

Dari Desa Mausambi kami bergerak 20 kilometer lagi menuju Desa Aewora. Hari sudah senja tetapi semangat tak boleh kendur. Di Desa Aewora kami harus bolak-balik mencari rumah Kepdes dan Kantor Desa. Beruntung segalanya terselesaikan termasuk pendataan dan penyerahan bantuan #1MugBeras. Lalu kami kembali ke Maurole, dan sudah malam. Perut kami, nampaknya kami lupa, mulai menangis minta diisi. Fauwzya saya tugaskan untuk lebih dulu ke Maurole; membeli 10 karung beras @ 59 kg untuk Posko Keliwumbu - Uludala yang memang jumlah pengungsinya lebih banyak, sekaligus mengajak supir pick up berserta konjak, Irwan, Vicky dan Ichan untuk makan terlebih dahulu.

Saya dan SKJ berhenti untuk memotret sebuah kamp pengungsi di Desa Aewora. Ternyata kami bertemu para pengungsi yang tertarik dengan aksi kami malam-malam memotret. Tapi itu waktu yang bisa kami punyai untuk Desa Aewora. Mengobrol sekitar 30 menit dengan beberapa pengungsi di situ, merekam, mendata, Tuhan ... begitu banyak PR ini. Saya hanya bisa menghela nafas panjang. Beruntung kami berdiskusi dulu untuk pengeluaran donasi. Kami harus menggunakannya secara bijak untuk tiga titik pengungsi yang telah didata dan diberikan bantuan bukan?

Sekitar pukul 07.30 PM kami tiba di Posko Keliwumbu - Uludala. Kami menurunkan beras agar Tim 1 segera dapat pulang ke Kota Ende. Permasalahannya; mobil pick up itu kami sewa. Tim 2 dan Tim 3 (kebetulan ini tugas Tim 2), menunggu datangnya Ketua Posko. Di sini lah kami lama berbincang sambil mendata. Ya, PR semakin banyak.

Dan teman, pukul 09.00 PM kami baru meninggalkan Maurole! What a day! 2 motor beriringan menuju Detusoko sejauh 50-an km. Gelap, hutan, sendiri, saya memberanikan diri untuk menyanyikan sebuah lagu dangdut : Dangdutlah Kita, untuk menghibur diri yang diselimuti gelap. Maaf ya teman-teman bila kuping kalian sakit. Di tengah perjalanan kali ini, lagi-lagi bertemu ular. Hewan melata itu saya jumpai sebanyak 3 kali dari 5 kali perjalanan ke Maurole. Salah satu ular bahkan pernah terlindas ban motor saya. Ah ... tapi untungnya langit begitu bersahabat. Baju kami yang kuyup, kering, kuyup, tidak bertambah kuyup karena bulan penuh dan para bintang terlukis di langit. Malam yang indah.

Kami tiba di Kota Ende pukul 10.30 PM, itu karena speedometer melaju tanpa hambatan karena jalanan sudah sangat sepi pada jam segitu, dan segera mengisi perut lagi di sebuah kafe. Kami lapar, teman. Perjalanan bolak-balik yang ditotal 200 km itu menguras energi. Usai ngopi-ngopi di kafe kami kembali ke rumah masing-masing.

Banyak catatan pada 29 Maret 2013 itu. Bahwa pengungsi masih sangat membutuhkan bantuan kita semua. Bahwa aksi #1MugBeras harus tetap berjalan beriringan dengan donasi yang masuk lewat rekening. Bahwa PR ini semakin banyak untuk kita semua, Orang Indonesia, karena di Indonesia pada saat yang bersamaan pun terjadi banyak bencana. Salah satunya di Papua. Tuhan, lindungilah kami semua. Amin.

Minggu depan saya harus kembali ke Maurole. Bila perlu menginap. Agar lebih banyak titik yang bisa saya data. Bila seandainya teman-teman berhalangan, mungkin saya berangkat sendiri. Oim Hitup masih OK untuk diajak keliling Flores. Hehehe. Motor kesayangan itu terpaksa ganti veleg gara-gara masuk lubang saat mengantar bantuan untuk #Rokatenda tahap pertama. Dan ya, saya masih punya keinginan untuk menyeberang ke Pulau Palu'e dengan cara yang masih saya pikirkan. Tuhan, semoga rejeki nomplok datang untuk rencana-rencana saya yang begitu banyak dan agak tidak masuk akal.

Kepuasan. Teman, kau tidak tahu, mungkin juga tahu, bagaimana rasanya kenikmatan itu datang ketika dapat mendata secara lengkap kondisi pengungsi dan melihat mereka tertawa karena kegokilan saya terhadap obrolan-obrolan dengan mereka. Kepuasan. 

Informasi lain tentang bantuan HARUS kalian cek di http://bloggerntt.org 

Terima kasih Ngga'e. Ini 1 April 2013, Pukul 03.15 AM, dan saya belum dapat tidur.


Wassalam.

3 comments:

  1. saluuuut ama tuteeeh dan kawankawan...

    Selamat berjuang kawan...!

    ReplyDelete
  2. tetap semangat Tuteh :)
    btw kemarin jug ada gempa kecil di Padang.

    ReplyDelete


  3. informasi menarik dan bermanfaatnya,
    semoga sukes aja yah!! Salm hangat untuk keluarga yang berada di samping anda yah Terimaksih atas informasinya..

    ReplyDelete

 

2read






Tuteh's bookshelf: read


Negeri 5 MenaraSamanMadreTitaniumSupernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang JatuhThe Lost Symbol

More of Tuteh's books »



kontraktor pameranNamira Consulting Jasa Psikotes Tes Psikologi

2teh

Ende - Flores | tuteh.pharmantara@gmail.com |
ym: tutehpharmantara
Twitter : @tuteh | FB : Tuteh Pharmantara

Rolling Fairy yang suka nyebarin VIRUS BLOG. Senangnya JALAN-JALAN ke mana saja, apalagi dibayar :p Masih suka MOTRET ASAL-ASALAN dan pastinya teteup suka DIPOTRET!


flobamorataBlogFam CommunityInternet Sehat Jump To Top