Nguli + …? = Semangat
Tuesday, July 24, 2012
Hi there! Lagi pengen rajin posting nih
:D
Coba deh lihat judul postingan
baik-baik. Yup, nguli + …? = Semangat. Ini sih pengalaman pribadi *bukan
curcol*
Saya bekerja Senin hingga Sabtu, dari
jam 8 hingga 1.30. Setiap pekerjaan pasti ada suka dukanya. Setiap system waktu
kerja juga pasti ada kelebihan dan kekurangannya.
8 to 1.30 artinya saya punya banyak
waktu luang bersama keluarga. It’s very important to have much quality time
with family. With my mom and Indra (my nephew). Tapi sekarang Indra udah di Jogja sehingga quality time tinggal saya berdua mamatua. Hiks. Kadang saya menghabiskan siang
hingga sore dengan tidur panjang, menulis, menonton film dan pergi ke medan
perang, big war antara plant vs zombie. Haha. Malam hari masih bisa siapin perlengkapan
kerja besok. Hari Minggu adalah hari leyeh-leyeh. Much time! Much time!
8 to 5 artinya anda (bukan saya, karena
saya tidak berada dalam sistem 8 to 5) pergi pagi dan pulang sore. Tiba di
rumah tubuh sudah aus duluan. Mandi, nonton (mungkin?) dan tidur. Sebagian kuli
pada sistem ini masih menyempatkan sedikit waktu bersama keluarga. Karena kerja
rodi dari Senin hingga Jumat akhirnya pada Sabtu dan Minggu anda memilih untuk
molor. Haha. Ini sih teori saya. Yang tidak setuju, harap hengkang dari blog
ini *dijitak*
Kesimpulannya adalah setiap orang
Indonesia mestinya bekerja dari Senin hingga Jumat, pada sistem 8 to 1.30 saja.
Yipieee *nari-nari*. I wish! Lebih efisien kayaknya. Efisien untuk manusia
pemalas macam saya ;))
Setiap hari kita bekerja disertai mood
berbeda-beda. Kadang dari rumah semangat 45, tiba di kantor semangat yang 45
itu turun drastis sampai 5 saja. Mata 5 watt hehe. Kadang hari ini kita
berapi-api mengerjakan segala sesuatunya, besok malah pengen angkat kaki ke
atas meja kerja dan berharap ada televisi + dvd terbaru dalam ruang kerja +
popcorn. Begitulah kita manusia. Begitulah saya si pemalas.
Suatu hari saya mengkopi banyak file
dari Etchon *ngikik* dan salah satu foldernya bernama ‘Cher Lloyd’. Keesokan
harinya waktu saya sedang dilanda kantuk tiada dua, saat mata saya
memfatamorgana meja kerja sebagai kasur empuk, saya mengklik Cher Lloyd. Apa
yang terjadi saudara-saudara? Apakah gelas-gelas kotor bekas kopi berubah
kinclong seketika? Atau apakah laci meja saya mendadak ambrol karena kebanyakan
snack dan bolpoin? Tidak saudara-saudara. Yang terjadi adalah jiwa saya seperti
diinfus :D
10 lagu pembooster semangat. Yang paling
saya suka? Semuanya! Grow Up sangat keren dinyanyikan bareng Busta Rhymes. Want
You Back juga keren. Dub On The Track, Beautiful People, Swagger Jagger, Over
the Moon … semuanya kece! Begitu dengar mata saya langsung menyala, bung. Tidak
percaya? Buktikan saja sendiri.
Saya memang tidak mereview penyanyi muda
ini, atau albumnya, saya hanya pengen bagi-bagi pengalaman *bukan curcol* bahwa
saat semangat kerja kau menurun coba deh dengerin Cher Lloyd dengan
tembang-tembang upbeat-nya. Fantastis!
Yuk mari ;))
Wassalam.
Irisan 4; FGD2012 by Internetsehat
Monday, July 23, 2012
Internetsehat kembali mengadakan Focus Group Discussion (FGD). Tahun 2011 FGD dilaksanakan hanya
sehari bertempat di Hotel Haris, Tebet, Jakarta. Hasil FGD2011 adalah rumusan
Kode Etik Online. Penting. Banget. Menurut saya Kode Etik Online itu wajib
dibaca dan diamalkan dalam kehidupan se-online-online.
Kode Etik Online tidak hanya berlaku untuk para blogger melainkan untuk semua onliners.
Think before posting. Kalian yang
ber-Facebook jangan sembarangan memaki di wall
orang lain karena bisa berakibat buruk untuk diri kalian sendiri. Apalagi
dengar kabar Facebook bakal membantu siapa pun yang telah dirugikan nama
baiknya di media sosial itu *mesti nyari informasi lagi untuk membicarakan hal
ini*
Dalam goodiebag
FGD2011 peserta juga mendapatkan video linimassa. Video yang memberi banyak
inspirasi kepada penontonnya. Misalnya kekuatan blogger ketika ibu Prita
dinyatakan bersalah dalam pencemaran nama baik sebuah rumah sakit. Atau tentang
mas Harry, seorang tukang becak di Jogja, yang menggunakan Facebook secara
cerdik untuk humas dan orderan usaha becaknya. Atau tentang gerakan Blood For
Life oleh mbak Silly—dengan kekuatan media sosial seperti Twitter, Blood For
Life telah membantu banyak manusia yang membutuhkan darah. See? Kita bisa memafaatkan media sosial untuk hal-hal yang baik.
Tidak selamanya internet memberi dampak buruk seperti yang ditakutkan
orang-berpikir-picik di masa lampau.
FGD 2012 dilaksanakan selama 3 hari. Dimulai tanggal 6 – 8
Juli 2012. Tiga hari kegiatan, FGD-nya dilaksanakan pada hari kedua yaitu pada
tanggal 7 Juli 2012. Lokasi kegiatan kali ini ada dua yaitu House of Eva dan
IDC. Cerita lengkap tentang FGD 2012 dapat dibaca di website Flobamora
Community. Yang menurut saya paling melengking dari FGD 2012
adalah video linimassa 2. Video ini ditonton oleh semua peserta FGD pada hari
pertama yaitu 6 Juli 2012 di House of Eva, tempat peserta menginap.
Dalam video linimassa 2 kita menemukan banyak hal menarik
yang terjadi di sekitar kita tentang pemanfaatan teknologi untuk saling memberi
informasi. Bagaimana masyarakat dapat tetap berinformasi dan berekspresi dengan
infrastruktur yang minim. Sesi pertama video linimassa 2 adalah tentang Almascatie,
dari Arumbai
(Komunitas Blogger Ambon-Maluku). Bagaimana Almas dan teman-teman di Ambon
meluruskan berita-berita yang terlalu berlebihan oleh media mainstream. Contohnya : berita kerusuhan
di Ambon ternyata tidak seheboh yang digembar-gemborkan oleh media mainstream. Lewat media sosial, Almas
dan teman-teman membantahnya. Ada pula kisah mbak Ayu Oktariani (Ayu Mori) yang
diserang HIV tapi hidup normal. Pandangan masyarakat tentang HIV dan AIDS atau
tentang ODHA memang mesti diluruskan. Dan masih banyak lagi yang tidak bisa
saya jelaskan satu per satu di sini. Intinya kita sebagai masyarakat seharusnya
dapat memberi informasi yang benar dan akurat tentang kejadian di daerah kita,
bukannya bergantung pada media mainstream.
Kita lebih pure, karena tidak
terbebani hal-hal tertentu yang ‘sesuatu’ gitu. Hehe. Tentu media yang bisa
kita gunakan sangat bayak! Blog, Twitter, Facebook, Plurk, dan media-media lain
di internet. Gratis. Bahkan radio pun bisa. Kita bisa kok.
Jadi itu dia laporan *tsah* kegiatan FGD 2012 kemarin di
House of Eva dan IDC, Jakarta. Semoga kegiatan ini dapat memberi manfaat yang
luar biasa kepada peserta. Dan semoga peserta tak lupa untuk berbagi ilmu ini
kepada teman-teman di komunitasnya. Itu point pentingnya, teman.
Sampai jumpa di lain kesempatan! ;))
Wassalam.
Irisan 3; Bertahan Satu Damri
Waktu mau nulis ini kuping saya seperti mendengar lagu CINTA-nya
d’Bagindas. Well, mari kita sepakati
saja judulnya Bertahan Satu Damri. Saya sangat menyukai Damri karena itulah
satu-satunya transportasi nyaman, menurut saya, dari Soeta ke kota. Ada sih
taxi tapi selama kita bisa berhemat kenapa harus boros? Haha. Kadang-kadang
saya naik taxi, kadang-kadang naik Damri, tergantung pilihan ganda-nya aja
*kayak ujian*
Kemarin, kemarin yang enggan saya tuliskan date-nya, saya tiba di Soeta sudah malam.
Pukul 10. Sudah malam ya itu. Untungnya Damri ada dan tersedia dari Soeta ke
kota hingga pukul 12. Sudah pagi ya itu. Sialnya Damri ada dan tersedia dari
kota ke Soeta hanya sampai pukul 9. Iya, 9 malam. Sebelum kita terjebak dalam
lingkaran kalimat tidak jelas ini, saya mau bilang terima kasih untuk Damri.
Banyak orang yang sudah kau tolong, Dam. Hehe. Orang butuh Damri untuk keluar
dari Kerajaan Soeta untuk memperoleh lebih banyak pilihan praktis di kota;
mikrolet, kopaja, ojek, taxi, bahkan bajaj.
Kalau ada yang nanya pilihan saya untuk keluar dari Soeta itu
apa, jawaban saya ya Damri. Ketika mereka mengeluarkan pekik ketakutan dan
lain-lainnya soal crime world, saya
hanya bisa tertawa. Kejahatan bisa terjadi di mana saja, kapan saja, tanpa
aba-aba. Tinggal kitanya saja yang mesti pintar mengantisipasi. Mudah kok.
#okesip
Tulisan yang aneh bin ganjil.
Wassalam.
Irisan 2; Kenapa Kita Tidak Sabar?
Tuesday, July 17, 2012
Kenapa kita tidak sabar? Tidak
sabar-an. Entah. Mungkin karena manusia ya, jadi manusia aja gitu kalau tidak
sabaran.
Hanya mau cerita tentang sebuah
pesawat yang terlambat datang. Calon penumpang sudah menunggu dengan gelisah.
Akhirnya ketika pesawat itu touch down,
terdengar pengumuman, “Pesawat Nganu telah mendarat di Bandara Ngini.”
Okay, pesawatnya finaly
touch down. Tapi kenapa orang-orang pada bangun dan ngantri di gate? Bukannya masih lama itu? Kenapa
juga mengantrinya kayak orang kesurupan? Bukannya setiap orang telah
mendapatkan nomor seat yang menjadi
hak-nya di dalam pesawat?
Saya cengo.
Sampai tigapuluh menit kemudian orang-orang
itu pun letih berdiri dan kembali duduk. Wah, siapa yang salah di sini?
Jelas-jelas yang ngasih pengumuman belum menyuarakan boarding.
Saya juga termasuk orang yang tidak
sabaran. Tapi ternyata ada orang yang lebih tidak sabaran dari saya. Okay deh
*a la Bang Indobrad* xixixixi ;))
Wassalam.
Irisan 1; Kenapa Kita Selalu Panik?
Monday, July 16, 2012
Iya
yah, kenapa kita selalu panik? Okay, panik memang perlu apalagi ketika usia kamu di atas 30 dan belum
ada seorang laki-laki pun yang nembak #eaaa ini maksudnya apa ya? Hahaha. Saya
sendiri juga sering kok panik, tapi nggak lebay *membela diri*. Tapi benar loh,
saya sering bertemu dengan orang-orang yang mengalami kepanikan berlebihan.
Kalau kata saya pribadi, paniknya nggak banget! Kenapa sih harus panik dengan
gaya lebay begitu?
Hari itu saya harus merelakan diri
menunggu sebuah pesawat yang delay hampir dua jam. Baiklah, pilihan tidak
banyak, artinya kita harus bersabar. Di ruang tunggu sudah banyak calon
penumpang dengan bermacam mimik wajah dan aroma. Tak lama kemudian pengumuman
pesawat datang pun terdengar. Akhirnya! Dalam hati saya berharap tidak ketinggalan
pesawat lanjutan. Yess, beda pesawat, beda maskapai.
Di Ende biasanya itu pesawat touch
down di macam-macam titik. Ada yang di bibir landasan ada pula di ¼ bandara.
Pesawat yang satu ini mendarat tepat di tengah landasan dan itu menimbulkan kepanikan
calon penumpang yang langsung teriak, “pesawat TABRAK!”
Saya syok.
Ini kenapa ya pada panik begini?
Kenapa nggak bisa yaaa sabar gitu nungguin pesawatnya balik dari ujung sono …
kesel jadinya.
“Itu orang-orang su kepana tu, ade?
Macam ke panik sa!” keluh seorang ibu di samping saya.
“Ehehehe …” ember! Emang lagi panik banget
tuh orang-orang.
Hanya bisa terkekeh. Beberapa menit
kemudian ketika melihat wujud pesawat muncul, The Panicers langsung duduk
kembali dengan wajah memerah. Oh gitu yah. Setelah menimbulkan kepanikan
terhadap orang lain terus bisa duduk dengan santai begitu. Hebat deh masyarakat
kita hehehe.
Saya termasuk orang yang juga cepat
panik. Misalnya dulu ada angin ribut disertai hujan, saya panik bukan kepalang
sementara mamatua santai aja milin tasbih. Saya juga panik banget waktu ada
yang tanya, “kapan nyusul?” ketika saya menerima undangan pernikahan. Well, kita manusia dan wajar bila panik
tapi mungkin sebaiknya nggak panik-panik amat gitu. Hehehehe. Ehek … ini
catatan untuk diri saya sendiri.
Wassalam.
Payah
Teman, saya terpaksa bilang payah -_-!
Melupakan flashdisk padahal seharusnya ada banyak postingan, yang tersimpan di flashdisk, yang harus saya update siang ini. Menjengkelkan sekali.
Payaaaaaah ...
*otak saya sedang eror*
Wassalam.
Penggajawa Beach
Monday, July 02, 2012
Hayo tebak, siapa ini? ;)
Hai! Hari Minggu kemarin ke mana? Dari pada duduk bengong di
rumah nggak ada kerjaan, atau kerjaan sudah selesai dan akhirnya bengong, kita
jalan-jalan yuk! Ide jalan-jalan ini dicetus oleh Fauwzya, The Meggy Z, yang
konon ingin mengajak saudari sepupunya mengenal tempat-tempat wisata di Ende.
FYI; Aninda bukan penduduk Ende melainkan penduduk Semarang oleh karenanya mari
kita kenalkan Ende pada Si Orang Baru.
Batu Penggajawa tak selamanya hijau ...
Rencana awal, sasaran kami adalah Danau Kelimutu. Lagi!? Oh
My God! Udara dingin menggagalkan rencana jalan-jalan ke Danau Kelimutu. Tahu
nggak sih Ende tuh lagi dingin banget? Subuh-subuh nge-bike ke Danau Kelimutu
adalah ide yang mengerikan. Kita bisa beku di jalan. Hahaha. Walhasil salah
satu pantai di Kabupaten Ende lah yang jadi sasaran. Dan pantai yang kita pilih
adalah Pantai Penggajawa. Kenapa Pantai Penggajawa? Karena pantai itu lah yang
sepertinya belum pernah kami kunjungi. Kami = Flobamora Community. Sekalian
bisa menulis tentang suasana di sana.
Petani/Penambang Batu. Mereka gigih demi sesuap nasi :)
Pantai Penggajawa berada di garis Pantai Selatan Pulau
Flores, masih dalam wilayah Kabupaten Ende, tepatnya di Kecamatan Nangapanda.
Jarak dari pusat Kota Ende kira-kira 30 kilometer sedangkan jarak dari pusat
kota Nangapanda sekitar 1 kilometer. Naik apa kami ke sana? Well, karena tidak
ada transportasi udara antara Ende – Nangapanda akhirnya Flobamora Community
back to basic; bike! Bikers Flobamora Community luar biasa taat loooh. Kami
selalu mengenakan helem ketika bepergian. Bahkan tidur pun pakai helem
(kebayang udara dingin; tidur pakai celana panjang, jaket, kaos kaki, kaos
tangan, syal … yang kurang hanya helem. Haha!) *lebaynisasi*
Siapa-siapa saja yang nekat berangkat kemarin siang? Imel—mom
Imel sudah nongkrong di rumah saya sejak jam 9 pagi, T—saya, Z, Eddie, Sherif,
Aninda—the guess star, Yery, Anita, Nando, Yano, Enol dan seorang fotografer
lagi yang saya lupa namanya. Hehe. Sebelum berangkat masing-masing kami membeli
bekal makan siang. Nggak boleh ada cerita member Flobamora Community terkapar
di pantai karena kekurangan gizi. Hiks.
Ini namanya Aninda -- kesalahan nama, maafkan ya hahaha.
Perjalanan santai dari Ende menuju Pantai Penggajawa memakan
waktu sekitar 1 jam. Bila roh Rosi menyurupi bisa lah hanya 30 menit ;)) menit
ke 31 masuk UGD. Kalian harus tahu bahwa jalan antar Kabupaten di Pulau Flores
ini bervariasi. Jalur Barat didominasi oleh tebing di kanan dan laut di kiri
(berbalik arah maka posisi tebing dan laut pun berpindah :p). Jalur Timur
didominasi oleh tebing di kanan dan jurang-hutan di kiri (berbalik arah maka
posisi tebing dan jurang-hutan berpindah :p).
The Stones
Kami tiba di Penggajawa saat matahari sudah tinggi.
Pemandangan utama adalah laut, pantai, pasir hitam dan bebatuan! Iya, ini yang
mau saya ceritakan. Penggajawa justru terkenal dengan Batu Alam Penggajawa atau
Batu Hijau. Batu-batu tersebut tidak pernah habis sejak jaman Dinosaurus meski
tiap hari para petani/penambang batu terus mengambil, mengumpulkan, untuk
dijual. Meski disebut Batu Hijau, batu-batu di Penggajawa tidak semuanya hijau.
Warnanya bervariasi ; hijau, biru muda, putih cokelat, putih susu, dan
lain-lain. Banyak manfaat batu Penggajawa salah satunya dimanfaatkan tukang
bangunan untuk menghias dinding atau taman. Konon batu-batu ini juga dikirim ke
luar Pulau Flores. Beberapa orang menggunakan batu ini sebagai pemanis pot
bunga berbahan semen+pasir.
Karena member Flobamora Community rata-rata pada narsis jadi
jangan heran bila akhirnya sesi foto-foto berlangsung lebih lama … eh …
bukannya itu memang tujuan utama kami jalan-jalan? Untuk menghasilkan
sebanyak-banyaknya foto, untuk dipamerkan, untuk mengenalkan Ende pada khalayak
:D hahaha *dikemplang* Btw ternyata tuntutan perut itu mengalahkah segalanya yaaa karena sesi pemotretan itu harus diinterupsi oleh aksi makan siang bersama hahahaha.
Pulang dari Penggajawa sudah sekitar pukul 3 sore, kudu ngebut nih soalnya ada teman-teman yang harus pergi ke Gereja *lirik mom Imel*. Masih sempat pun foto-foto Bikers di salah satu titik kelokan yang indah banget pantainya.
Biker's Girls
Well, sampai jumpa di cerita berikutnya ya! :)
Wassalam.






























